Senin, 05 Desember 2011

Artikel Pendidikan :: Hakikat dan Fungsi Uang

Hakikat dan Fungsi Uang - Merujuk pada "Mu’jam al-Mufahras" karya Fuad Abdul Baqi, kata maal (uang) terulang dalam al-Qur’an sebanyak 25 kali dalam bentuk tunggal, dan 61 kali dalam bentuk jamak. Hasan Hanafi dalam bukunya ad-Din wa Ats-Tsaurah sebagaimana yang dikutip Quraish Shihab mengatakan bahwa kata-kata tersebut mempunyai dua bentuk yaitu pertama, tidak dinisbahkan kepada “pemilik” dalam arti dia berdiri sendiri. Hal ini menurutnya merupakan suatu yang logis karena memang ada harta yang tidak menjadi obyek kegiatan manusia, tetapi berpotensi untuk itu. Kata-kata ini ditemukan dalam al-Quran sebanyak 23 kali. Kedua, dinisbahkan kepada sesuatu, seperti “harta mereka”, harta anak yatim dan lain-lain ini adalah harta yang menjadi obyek kegiatan. Dan bentuk ini ditemukan sebanyak 54 kali. Dari keseluruhan jumlah tersebut yang terbanyak dibicarakan adalah harta dalam bentuk obyek kegiatan manusia.

Penciptaan mata uang adalah dalam rangka untuk diedarkan di masyarakat dan menjadi penyeimbang bagi semua harta benda dengan adil dan sebagai perantara benda-benda yang lain. Sekalipun uang memiliki nilai, tetapi yang diperlukan bukanlah bendanya. Uang mempunyai nilai yang sama terhadap semua benda dan bahkan Imam al-Ghazali dalam kitabnya "Ihya Ulumuddin", mengibaratkan uang bagaikan cermin. Cermin tidak punya warna namun dapat merefleksikan semua harga. Uang bukan komoditi dan oleh karenanya tidak dapat diperjual-belikan.

Dalam pandangan al-Qur’an, uang merupakan modal serta salah satu faktor produksi yang penting, tetapi “bukan yang terpenting”. Manusia menduduki tempat di atas modal disusul sumber daya alam. Pandangan ini berbeda dengan pandangan sementara pelaku ekonomi modern yang memandang uang sebagai segala sesuatu, sehingga tidak jarang manusia atau sumber daya alam dianiaya atau diterlantarkan.

Modal tidak boleh diabaikan, Manusia berkewajiban menggunakannya denagan baik, agar ia terus produktif dan tidak habis digunakan. Karena itu seorang wali yang menguasai harta orang-orang yang tidak atau belum mampu mengurus hartanya diperintah untuk mengembangkan harta yang berada dalam kekuasaannya itu dan membiayai kebutuhan pemiliknya yang tidak mampu itu, dari keuntungan perputaran modal, bukan dari pokok modal. Ini dipahami dari redaksi surat an-Nisa’ surat 5, di mana dinyatakan warzuquhum fiihaa bukan warzuquhum minhaa. “Minhaa” artinya “dari modal” sedangkan fiihaa berarti “di dalam modal”, yang dipahami sebagai ada sesuatu yang masuk dari luar ke dalam (keuntungan) yang diperoleh dari hasil usaha.

Karena itulah modal tidak boleh menghasilkan dari dirinya sendiri, tetapi harus dengan usaha manusia. Ini salah satu sebab mengapa membungakan uang, dalam bentuk riba dan perjudian dilarang. Salah satu hikmah pelarangan riba, serta pengenaan zakat sebesar 2,5% terhadap uang adalah untuk mendorong aktivitas ekonomi, perputaran dana, serta sekaligus mengurangi spekulasi serta penimbunan.

0 komentar:

Poskan Komentar