Senin, 05 Desember 2011

Artikel Pendidikan :: Sejarah Pendidikan Masa Khulafaurrasyidiin

Sejarah Pendidikan Masa Khulafaurrasyidiin - Pada masa Nabi Muhammad SAW. Kekuasaan Islam meliputi seluruh Jazirah Arab. Pendidikan pada waktu itu masih berpusat di kota Madinah, sedangkan pada masa khulafaurrasyidin kekuasaan Islam semakin bertambah luas mulai dari Iran sebelah timur sampai Tripoli sebelah barat.

Dengan demikian pusat pendidikan bukan hanya di Madinah melainkan tersebar di kota-kota besar yaitu: Hijaz (meliputi Makkah dan Madinah), Syam (meliputi Damaskus dan Palestina), Irak (meliputi Basrah dan Kufah), dan Mesir (mencakup Fustat).
Selanjutnya mengenai sejarah dan pusat pendidikan pada masa Khulafaurrasyidiin adalah sebagai berikut:

1.Masa Abu Bakar

a. sistem pemerintahan dalam Islam (administrasi)
Sistem yang dijalankan oleh Abu Bakar dalam dalam hal ini menurut pola Arab murni. Hubungan-nya dengan masa Nabi yang masih dekat, serta hubungan Abu Bakar sendiri secara pribadi dengan Rasulullah dan pengaruhnya dalam dirinya memberi bekas padanya yang kemudian mengalami perubahan karena situasi dan meluasnya kekuasaan Islam. Perubahan dalam sistem pemerintahan ini berlangsung mengikuti perkembangan lingkungan yang ada, sehingga dengan demikian, sedikitpun tak ada kesamaan antara masa kekuasaan Abbasi dalam masa kejayaan-nya dengan masa khalifah pertama Abu Bakar, juga antara masa Abu Bakar dengan masa-masa Umar, Usman dan Ali.

Masa Abu Bakar bisa dikatakan masa yang sungguh unik. Masa itu adalah masa transisi yang wajar saja dengan masa Rasulullah, baik dalam politik agama maupun politik skuler. Memang benar, ketika itu agama sudah sempurna, dan tak ada lagi oranng yang bisa mengubah atau menukar apa yang sudah ada dalam agama itu. Tetapi begitu Nabi wafat, orang-orang pinggiran Arab mulai berpikir-pikir mau jadi murtad, atau memang sudah banyak kabilah yang murtad. Maka tidak ada jalan lain bagi Abu Bakar kecuali harus bertindak menetukan langkah demi mengatasi keadaan yang sangat genting itu. Langkah itu sudah dimulai oleh Nabi sendiri ketika mengadakan hubungan dengan negara-negara tetangga dalam menjalankan politik dakwahnya itu. 
 
b. pendidikan agama

Pada masa-masa awal pemerintahan Abu Bakar segolongan besar kaum muslim banyak yang kadar iman dan ketaqwaannya pudar bahkan sebagaian dari mereka banyak yang murtad, tidak mau membayar zakat, dan yang lebih heboh lagi muncul nabi-nabi palsu yang sangnat menyesatkan umat Islam, karena pada waktu itu umat Islam mengalami masa transisi sepeninggal Rasulullah.  Maka tidak ada jalan lain bagi Abu Bakar kecuali harus bertindak menentukan langkah demi mengatasi keadaan yang sangat genting pada waktu itu. Yang mana langkah itu sudah dimulai oleh Nabi sendiri ketika mengadakan hubungan dengan negara-negara tetangga dalam menjalankan politik dakwahnya itu. Setelah berlangsung beberapa saat, berangsur kaum muslimin mulai menyadari akan kesalahan dan kelemahan iman mereka, lalu mereka bertaubat dan kembali ke jalan yang benar sesuai dengan syariat Islam. 
        
c. akademi kemiliteran
Dalam suatu negara atau pemerintahan, bilamana negara tersebut ingin merasa  tentram serta aman dari serangan musuh maka haruslah mempunyai balatentara dan ilmu kemiliteran.

Adapun prestasi yang telah dicapai oleh Abu Bakar dalam bidang kemiliteran adalah membentuk sebelas brigade yang tugasnya untuk mengamankan negara dari serangn musuh serta membersihkan kaum-kaum pembangkang. Adapun brigade Khalid bin Walid adalah brigade yang terkuat dari antara sebelas brigade yang dibentuknya, karena dalam brigade tersebut diisi oleh putra-putra pilihan dari Muhajirin dan Anshar.
    
d. pengumpulan al-Qur’an
Berbagai peperangan untuk memulihkan kembali kekuasaan Islam telah memakan banyak korban jiwa, terutama ketika menghadapi pasukan nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab di Yamamah. Banyak kaum muslimin yang gugur sebagai syuhada, yanng mana kebanyakan dari mereka yang gugur adalah para penghafal Al-Qur’an.

Memperhatikan keadaan itu Umar bin khaththab mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar agar segara menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an yang masih tersimpan di beberapa catatan sahabat Rasulullah. Usul baik ini diterima oleh Abu Bakar meskipun sebelumnya dia merasa ragu karena pekerjaan ini belum pernah dilaksanakan dimasa rasulullah masih hidup. Selanjutnya Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit agar menulis catatan-catatan para sahabat dan menyusunnya menurut surat dan ayat sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw, dan dihimpun dalam satu mushaf. Adapun pekerjaan ini dapat diselesaikan selama satu tahun dan mushaf itupun disimpan di rumah khalifah. Sepeninggal Abu Bakar mushaf itu disimpan di rumah khalifah Umar dan setelah Umar wafat disimpan di rumah Khafsah untuk kemudian diserahkannya kepada khalifah Utsman bin Affan.

Pendidikan di Masa Umar bin Khaththab

a. administrasi kepemerintahan
Khalifah Umar bin Khaththab adalah figur yang sangat memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan kelancaran pemerintahan. Pembangunan fasilitas pemerintahan dan kemasyarakatan di masa Khalifah Umar bin Khaththab maju pesat. Diantara sarana pemerintahan yang dibangun Khalifah Umar adalah:
  1. Membagi wilayah kekuasaan menjadi wilayah pemerintahan pusat dan propinsi. Masing-masing propinsi dipimpin seorang Gubernur dan dibantu oleh Panglima besar, Kepala Pajak (Amil), Sekretaris Daerah (Katib) dan Hakim (Qodli).
  2. Membentuk dewan-dewan untuk menertibkan jalannya pemerintahan, seperti: Diwanul Jund (Militer), Diwanul Qodlo (Peradilan), Diwanul Hisbah (Pengawas Ekonomi), Diwanul Kharraj (Pajak hasil bumi), Al Barid (Jawatan Pos) dan masih banyak lagi.
  3. Mendirikan Baitul Mal yang bertugas mencetak, mengedarkan dan mengatur keluar masuknya keuangan negara.
  4. Menetapkan kalender khusus umat Islam yang dikenal dengan Kalender Hijriyah.
  5.  Membangun kanal Amirul Mukminin.
b. pendidikan keagamaan
Sistem pendidikan yang sebelumnya dilakukan secara mandiri, tidak dikelola oleh pemerintah, oleh Khalifah Umar sistem tersebut dirubah dan pemerintah mulai saat itu turut campur dalam menambahkan kurikulum dalam lembaga kuttab, yaitu sekolah tingkat pertama, tempat anak-anak belajar menulis, membaca dan menghafal serta belajar pokok-pokok ajaran Islam dilanjutkan kejenjang pendidikan yakni di masjid.

Di masjid ini terdapat dua tingkat, yaitu tingkat menengah dan tingkat tinggi. Adapun yang membedakan antara keduanya adalah kualitas pengajarnya. Untuk tingkat menengah pengajarnya belum mencapai status ulama besar dan menggunakan sistem sorogan sedangkan untuk tingkat tinggi pengajarnya merupakan ulama-ulama senior dan menggunakan sistem halaqoh. Selain itu, Khalifah Umar juga menginstruksikan kepada penduduk kota agar anak-anak diajarkan berenang, mengendarai unta, memanah, membaca, dan menghafalkan syair-syair.
bersambung....

0 komentar:

Poskan Komentar