Kamis, 19 April 2012

Contoh Penelitian Tentang Anak Jalanan

Contoh Penelitian Tentang Anak Jalanan

Selamat datang di blog Jurnal Pendidikan. Sobat Jurnal Pendidikan Pada kesempatan kali ini admin akan berbagi Penelitian Tentang Anak Jalanan dengan judul "Konsep Diri Anak Jalanan Usia Remaja" yang disusun oleh sobat Yudit Oktaria Kristiani Pardede. M.PSI. (kontak: yudit@staff.gunadarma.ac.id yudit_okp@yahoo.com. Homepage: yudit.staff.gunadarma.ac.id). atau mungkin sobat jurnal pendidikan ingin terlebih dahulu membaca posting sebelumnya yang membahas tentang "Contoh Penelitian Tentang Anak". semoga bermanfaat...

anak jalanan by TedyBoo

KONSEP DIRI ANAK JALANAN USIA REMAJA
Oleh: Yudit Oktaria Kristiani Pardede
Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma
Jl. Margonda Raya No. 100 Depok 16424, Jawa Barat

Abstrak
Fenomena anak jalanan  sebetulnya sudah  berkembang lama, tetapi saat ini semakin menjadi perhatian dunia, seiring dengan meningkatnya jumlah anak jalanan di berbagai kota besar di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana gambaran konsep diri anak jalanan usia remaja dan mengapa konsep diri tersebut dapat terbentuk. Konsep diri adalah gambaran deskriptif dan evaluatif individu mengenai diri sendiri; penelitian atau penaksiran mengenai diri sendiri,  ataupun cara seseorang memandang dirinya sendiri. Menurut Baldwin dan Holmes (dalam Calhoun dan Acocella 1995), faktor pembentuk konsep diri remaja adalah orangtua, kawan sebaya, masyarakat, dan belajar.

Sampel dalam penelitian ini adalah seorang anak jalanan  yang sudah putus hubungan dengan keluarganya, dan  berpartisipasi penuh di jalanan, baik secara sosial  maupun ekonomi. Dari hasil analisis data, diketahui bahwa secara umum, konsep diri yang terbentuk pada diri subyek adalah konsep diri yang  negatif. Hal ini terlihat dari beberapa bagian diri subyek yang sebagian  besar memandang  dirinya secara negatif. Hal tersebut juga dapat diakibatkan oleh beberapa faktor yang membentuk konsep diri subyek ke arah yang negatif, yakni orangtua, kawan sebaya, dan masyarakat.

Pendahuluan
Fenomena anak jalanan sebetulnya sudah berkembang lama, tetapi saat ini semakin menjadi perhatian dunia, seiring dengan meningkatnya jumlah anak jalanan di berbagai kota besar di dunia. Di Indonesia, saat ini diperkirakan terdapat 50.000 anak, bahkan mungkin lebih, yang menghabiskan waktu yang produktif dijalanan. 

Menurut de Moura (2002), anak – anak jalanan dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yakni anak yang bekerja di jalanan dan anak yang hidup di jalanan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan, alasan anak bekerja adalah karena membantu pekerjaan orangtua  (71%), dipaksa membantu orangtua (6%), menambah biaya sekolah (15%), dan karena ingin hidup bebas, untuk uang jajan, mendapatkan teman, dan lainnya  (33%). 

Secara umum, pendapat yang berkembang di masyarakat mengenai  anak jalanan adalah anak-anak yang berada di jalanan untuk mencari nafkah dan menghabiskan waktu untuk bermain, tidak bersekolah, dan kadang kala ada pula yang menambahkan bahwa anak-anak jalanan mengganggu ketertiban umum dan melakukan tindak kriminal (Martini dan Agustian dalam Terloit 2001). Adanya pandangan seperti ini akan berpengaruh terhadap terbentuknya konsep diri yang negatif pada diri anak jalanan sendiri.

Chaplin (2000) mengemukakan bahwa konsep diri adalah evaluasi individu mengenai diri sendiri; penilaian atau penaksiran mengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan. Konsep diri terbentuk karena adanya interaksi dengan orang-orang sekitarnya. Apa yang dipersepsikan individu lain mengenai diri individu, tidak terlepas dari struktur, peran, dan status sosial yang disandang seorang individu (Papalia, Olds, dan Feldman, 2004). Menurut Subadi dkk. (1986), konsep diri bukanlah faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari pengalaman individu dalam berhubungan dengan individu lain.

Menurut Baldwin dan Holmes (dalam Calhoun dan Acocella 1995), terdapat beberapa faktor pembentuk konsep diri, khususnya konsep diri remaja, yakni (1) orangtua sebagai kontak sosial yang paling awal yang kita alami, dan yang paling kuat, apa yang dikomunikasikan oleh orangtua pada anak lebih menancap daripada informasi lain yang diterima anak sepanjang hidupnya, (2) kawan sebaya yang menempati kedudukan kedua setelah orangtuanya dalam mempengaruhi konsep diri, apalagi perihal penerimaan atau penolakan, peran yang diukir anak dalam kelompok teman sebayanya mungkin mempunyai pengaruh yang dalam pada pandangan tentang dirinya sendiri, (3) masyarakat yang menganggap penting fakta-fakta  kelahiran di mana akhirnya penilaian ini sampai kepada anak dan masuk ke dalam konsep diri, dan (4) belajar di mana muncul konsep bahwa konsep diri kita adalah hasil belajar, dan belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan psikologis yang relatif permanen yang terjadi dalam diri kita
sebagai akibat dari pengalaman (Calhoun dan Acocella 1995).

Sullivan (dalam Subadi dkk. 1986) menjelaskan bahwa jika individu diterima orang lain, diterima dan disenangi karena keadaannya, maka individu akan bersikap menghormati dan menerima diri sendiri. Sebaliknya, jika orang lain selalu meremehkan, menyalahkan, dan menolak, maka kita tidak akan menyayangi diri sendiri (Candless dalam Sobur 2003). Walaupun anak merasa telah berusaha menampilkan
tingkah laku yang baik, namun stigma tersebut tetap melekat pada diri mereka, dan mempengaruhi pandangan mereka terhadap dirinya sendiri dan cenderung negatif.

Sementara itu, Departemen Sosial (dalam Terloit 2001) membuat suatu definisi operasional dari anak jalanan, yaitu anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah dan berkeliaran di  jalanan dan tempat- tempat umum lainnya. Mereka biasanya berusia 6 – 18 tahun, masih sekolah atau sudah putus sekolah, tinggal dengan orangtua maupun tidak, atau tinggal di jalanan sendiri maupun dengan teman- temannya, dan mempunyai aktivitas di jalanan, baik terus-menerus maupun tidak.

Beberapa faktor utama, yang diakui oleh masyarakat dan beberapa tokoh, yang menyebabkan timbulnya anak jalanan, antara lain kemiskinan, disfungsi keluarga, dan kekerasan dalam keluarga. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana gambaran konsep diri anak jalanan usia remaja dan mengapa konsep diri tersebut dapat terbentuk. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberi gambaran konsep diri pada anak jalanan usia remaja serta bagaimana konsep diri tersebut terbentuk.

selengkapnya mengenai contoh penelitian anak jalanan (download disini) gratis

itulah tadi artikel tentang contoh penelitian tentang anak jalanan. semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam

4 komentar:

  1. aku punya link juga tentang topik yang kamu bahas, kamu bisa kunjungi aku di
    http://repository.gunadarma.ac.id80/bitstream/123456789/1102/1/10503004.pdf

    BalasHapus
    Balasan
    1. ok, sobat,, tapi maaf, linknya k' g' bisa dibuka ya..?

      Hapus
  2. Salam kenal, senang bisa baca artikelnya, bagus dan bermanfaat. Jangan lupa kunjung balik ke OBYEKTIF.COM makasih.

    Salam kompak:
    Obyektif Cyber Magazine
    (obyektif.com)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal balik sobat, kompak selalu.. n terimakasih atas kunjungannya

      Hapus