Kamis, 19 April 2012

Contoh Penelitian Tentang Anak :: Kreatif Dalam Konteks Pendidikan Seni Bagi Anak Autis

Contoh Penelitian Tentang Anak

Selamat datang di blog Jurnal Pendidikan. Sobat Jurnal Pendidikan Pada kesempatan kali ini admin akan berbagi Contoh Penelitian dengan judul "Kreatif Dalam Konteks Pendidikan Seni Bagi Anak Autis (Sebuah Tinjauan Teoritis tentang Kreativitas)" yang disusun oleh sobat Anne Nurfarina - Program Studi DKV STISI Telkom - 2011 (email: anne@stisitelkom.ac.id). atau mungkin sobat jurnal pendidikan ingin terlebih dahulu membaca posting sebelumnya yang membahas tentang "Contoh Penelitian Tentang Globalisasi". penelitian tentang anak semoga bermanfaat....


Kreatif Dalam Konteks Pendidikan Seni Bagi Anak Autis (Sebuah Tinjauan Teoritis tentang Kreativitas)
oleh: Anne Nurfarina - Program Studi DKV STISI Telkom - 2011 (email: anne@stisitelkom.ac.id)

Abstrak
Primadi Tabrani menyatakan dalam buku Kreativitas Humanitas Manusia menyatakan bahwa pada hakekatnya kreatif merupakan sifat inti manusia, baik pada manusia normal ataupun yang cacat mental. Yang membedakan adalah tingkatannya atau grade masing-masing individu. Jika dalam kasus penderita autis dengan mental retarded ditemukan satu interes atau keinginan tertentu seperti menggambar atau bermain musik, berarti ada konten kreatif dalam diri mereka. Penderita autis ditandai dengan ketidakmampuan bersosialisasi dan sulit untuk membangun komunikasi dengan orang-orang yang ada disekitarnya. Kuntz  menyatakan bahwa penderita autis sangat sensitif pada hal-hal yang bersifat audio dan visual yang terstimulasi oleh kejadian sehari-hari. Bila dikaitkan dengan teori Primadi tentang basic concept manusia adalah berkreatif  maka sangat penting mengidentifikasi aspek kreatif tersebut., khususnya dalam konteks pengembangan kognisi. Dalam buku Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat yang ditulis Prof. Dr. Utami Munandar-pakar psikologi pendidikan di Indonesia, dinyatakan bahwa kreatif adalah fondasi dari pendidikan itu sendiri. Mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu mengantar Indonesia ke posisi terkemuka, paling tidak sejajar dengan negara-negara lain, baik dalam pembangunan ekonomi, politik, maupun sosial budaya, pada hakekatnya menuntut komitmen pendidikan untuk dua hal  yaitu: a) penemukenalkan dan pengembangan bakat-bakat unggul dalam berbagai bidang, dan b) penumpukan dan pengembangan kreativitas yang pada dasarnya dimiliki tiap orang, tetapi perlu ditemukenali dan dirangsang sejak usia dini. Untuk itu pendidik perlu dipersiapkan dan dilatih agar memiliki kompentensi professional untuk membina anak berbakat dan mengajar secara kreatif.

Latar Belakang
Ada 4 hal penting yang berhubungan dan saling mendukung dalam upaya pendidikan anak, yakni: pengembangan kreativitas, lingkungan yang merangsang perkembangan bakat dan kreativitas, pembelajaran dan teknik kreatif serta mengatasi hambatan dalam pengembangan kreativitas. Namun selain itu, Munandar menyayangkan pemahaman tentang kata kreativitas, pengertian kreativitas sebagai sifat yang diwarisi oleh orang yang berbakat luar biasa atau genius. Kreativitas diasumsikan sebagai sesuatu yang dimiliki atau tidak dimiliki, dan tidak banyak yang dapat dilakukan melalui pendidikan untuk mempengaruhinya.  (Munandar: 7)

Prof. Dr Utami Munandar (1995) telah meneliti anak-anak yang tinggal kelas di berbagai tempat di Indonesia. Hasil penelitian itu mengejutkan sekali. Ternyata 90% anak tinggal kelas termasuk anak yang sangat pandai. Begitu pula anak autistik. Banyak diantara mereka justru sangat pandai,  Albert Einstein, Picasso, dan Thomas Alfa Edison ketika duduk di bangku sekolah termasuk anak bermasalah dan mereka pengidap autisme. Anak autistik terbagi menjadi tiga kelompok, yakni IQ rendah, sedang, dan tinggi. Menurutnya, mereka tinggal kelas karena tak memperoleh pelayanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan. Anak autistik butuh pendamping dan perhatian khusus agar bisa belajar dengan baik.

Sekolah inkusif merupakan sekolah yang memberi kesempatan pada anak-anak berkebutuhan khusus untuk belajar dengan anak-anak normal.

Pemaparan di atas merupakan gambaran keterkaitan kreativitas dengan pendidikan, karena keduanya saling berkorelasi. Hal ini akan saling mendukung seperti dikatakan oleh Utami Munandar berikutnya bahwa pengembangan kreativitas secara umum dan khususnya dalam program pendidikan anak berbakat, meliputi ranah kognitif (pemikiran), afektif (sikap dan kepribadian ), dan Psikomotor (keterampilan dan perilaku). (Munandar, 2004:1)

Bila dicermati, konstelasi hemisphere otak manusia yang dikenal sebagai otak kiri dan kanan, secara fisik menunjukkan posisi simetri yang saling bersebelahan. Konsep kognitif hanya dikenali sebagai tempat bagi pengetahuan eksakta, sementara hanya afeksi saja yang tersedia bagi peluang kreatif. Sehingga beberapa orang tua yang anak-anaknya autis merasa bahwa anaknya tidak cerdas karena hanya berminat pada menggambar saja. Sesudah itu anak tidak distimulasi lagi dan terjebak pada penanganan anak apa adanya, membiarkan si anak tumbuh berkembang secara fisik saja. Guilford dalam pidatonya yang terkenal pada tahun 1950 memberikan perhatian terhadap masalah kreaivitas ditelantarkan dalam pendidikan formal, padahal amat bermakna bagi pengembangan potensi anak secara utuh dan bagi keajuan ilmu pengetahuan dan seni budaya. Kemudian dengan diajukannya model struktur intelektual, tampak perhatian kreativitas, termasuk hubungan antara dan intelegenasi sangatlah meningkat, khususnya sejauh mana antara inteligensi berpengaruh terhadap kreativitas seseorang. Model struktur intelek membedakan antara berpikir konvergen dan divergen.  Kemampuan berpikir konvergen mendasari tes intelegensi tradisional dan kemampuan berpikir divergen merupakan indikator dari kreativitas. (Munandar:8)

Pemikiran Guilford telah dibuktikan oleh Utami Munandar dalam penelitiannya hasil studi korelasi dan analisis faktor yang membuktikan tes kreativitas sebagai dimensi fungsi kognitif yang relatif  bersatu yang dapat dibedakan dari tes intelegensi; tetapi berpikir divergen (kreatifitas) juga menunjukkan hubungan yang bermakna dengan berpikir konvergen (intelegensi)  (Munandar:9).


Setelah deskripsi teoritis Utami Munandar tentang kreatifitas sebagai metode stimulus bagi peningkatan intelegensi siswa dari perspektif pendidikan, maka dalam sub-bab ini akan dipaparkan kreatifitas dalam perspektif seni.

Dalam buku buku Kreativitas dan Humanitas oleh Yasraf amir Piliang membuat pengantar yang menyatakan bahwa kreativitas tidak saja merupakan kapasitas atau kemampuan dasar manusia, akan tetapi lebih jauh lagi- disamping rasionalitas- merupakan identitas manusia, yang menunjukkan keunggulannya dari binatang. Oleh karena itu, kreatifitas merupakan ciri manusia, ekspresi dari humanitas itu sendiri.


selengkapnya mengenai contoh penelitian tentang anak (download disini) gratis

itulah tadi artikel tentang Contoh Penelitian Tentang Anak :: Kreatif Dalam Konteks Pendidikan Seni Bagi Anak Autis. semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam

0 komentar:

Poskan Komentar