Sabtu, 05 Mei 2012

Contoh Penelitian Tentang Buah Cempedak

Penelitian Tentang Buah Cempedak

Selamat datang di blog Jurnal Pendidikan. Sobat Jurnal Pendidikan Pada kesempatan kali ini admin akan berbagi artikel tentang Penelitian Tentang Buah Cempedak dengan judul "Model Terapi Kombinasi Ekstrak Etanol 80% Kulit Batang Cempedak (Artocarpus Champeden Spreng.) dan Artesunat pada Mencit Terinfeksi Parasit Malaria" yang disusun Oleh sobat Achmad Fuad Hafid, sobat Maharani Wahyuning Tyas, dan sobat Aty Widyawaruyanti (Departemen Farmakognosi dan Fitokimia, Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga, Surabaya). atau mungkin sobat pendidikan ingin terlebih dahulu membaca posting sebelumnya yang membahas tentang "Contoh Penelitian Tentang Anggur :: Penentuan Konsentrasi Natrium Bikarbonat Dan Asam Sitrat Pada Pembuatan Serbuk Minuman Anggur Berkarbonasi (Effervescent)".semoga bermanfaat.

Contoh Penelitian Tentang Buah Cempedak
ilustrasi

Model Terapi Kombinasi Ekstrak Etanol 80% Kulit Batang Cempedak (Artocarpus Champeden Spreng.) dan Artesunat pada Mencit Terinfeksi Parasit Malaria

Oleh: Achmad Fuad Hafid, Maharani Wahyuning Tyas, Aty Widyawaruyanti

Departemen Farmakognosi dan Fitokimia, Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga, Surabaya

Abstrak

Resistensi parasit terhadap beberapa antimalaria merupakan permasalahan besar dalam dunia kesehatan. Terapi kombinasi dengan turunan artemisinin atau biasa disebut dengan istilah ACT (Artemisinine-based Combination Therapy) sangat disarankan oleh WHO sebagai terapi pilihan yang
mampu mengendalikan penyebaran resistensi dari Plasmodium falciparum.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas terapi kombinasi ekstrak etanol 80% cempedak (Artocarpus champeden Spreng.) (ACEE) dengan Artesunat terhadap mencit yang terinfeksi Plasmodium berghei. Terapi kombinasi ACEE dengan Artesunat dilakukan secara peroral. Kelompok uji dibagi menjadi (A) ACEE 100 mg/kg berat badan perhari selama tiga hari; (B) Artesunat 36,4 mg/kg berat badan perhari selama tiga hari; (C) kombinasi ACEE 100 mg/kg berat badan dan Artesunat 36,4 mg/kg berat badan perhari selama tiga hari; (D) kombinasi ACEE 100 mg/kg berat badan perhari selama tiga hari dan Artesunat 36,4 mg/kg berat badan pada hari pertama; (E) kombinasi ACEE 100 mg/kg berat badan perhari selama tiga hari dan artesunat 36,4 mg/kg berat badan pada hari ketiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa A, B, C, D, and E menghambat pertumbuhan parasit berturut-turut sebesar 62,6%; 66,8%; 82,3%; 67,8%; 70,2%. Dari hasil tersebut, C menunjukkan aktivitas antimalaria yang paling poten dibandingkan dengan yang lain. Berdasarkan analisis dengan one way Anova, kelompok uji menunjukan penghambatan pertumbuhan parasit yang berbeda bermakna secara statistik (p=0,00; p<0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi terapi ACEE 100 mg/kg BB dan Artesunat 36,4 mg/kg BB perhari selama tiga hari (model terapi C) pada mencit terinfeksi P. berghei merupakan model terapi yang paling poten.

Kata kunci: ekstrak Artocarpus champeden, terapi kombinasi, artesunat, penghambatan pertumbuhan parasit.

Pendahuluan

Malaria merupakan salah satu penyakit infeksi yang tersebar di seluruh dunia. Sekitar 300-500 juta penduduk menderita penyakit ini, dengan angka kematian lebih dari 1,5-2,7 juta pertahun.

Resistensi parasit terhadap beberapa antimalaria sampai saat ini merupakan permasalahan terbesar dalam dunia kesehatan, terutama untuk wilayah-wilayah endemik malaria. Resistensi yang terjadi dapat disebabkan oleh adanya mutasi yang dapat mengurangi sensitivitas terhadap pemberian antimalaria.3 Oleh karena itu, pengembangan antimalaria dan model terapi yang efektif sangat dibutuhkan dalam mengatasi penyakit ini. Menurut WHO (2001), diagnosis cepat dan pengobatan yang tepat merupakan prinsip utama dari strategi global dalam mengontrol penyakit malaria. Penggunaan antimalaria yang rasional tidak hanya efektif meningkatkan efikasi obat, dan memperpendek durasi pemberian obat tetapi juga harus dapat memperlambat perkembangan parasit menjadi resisten terhadap antimalaria.

Salah satu alternatif untuk mendapatkan terapi yang efektif adalah dengan menggunakan kombinasi antimalaria.

Diharapkan dengan terapi kombinasi, akan terjadi sinergistik efek obat dan peningkatan potensi dari satu atau lebih obat, sehingga dapat meningkatkan efikasi terapi dan juga memperlambat terjadinya resistensi parasit terhadap salah satu komponen dalam kombinasi.

Beberapa antimalaria kombinasi yang digunakan saat ini merupakan kombinasi dari satu atau lebih senyawa murni, sebagai contoh, klorokuin dengan sulfadoksin-pirimetamin, amodiakuin dan sulfadoksin-pirimetamin, atau artesunate dengan amodiaquin. WHO (2001) telah menyarankan Artemisinine Based Combination (ACT) sebagai obat pada terapi penyakit malaria. Artemisinin adalah senyawa seskuiterpen lakton hasil isolasi dari tanaman Artemisia annua. Kombinasi antimalaria dengan artemisinin dan turunannya memberikan efektivitas terapi hingga 100% selama 3 hari pengobatan.

Artemisinin mempunyai struktur seskuiterpen lakton (sesquiterpene lactone) yang mempunyai peranan penting dalam membunuh parasit malaria. Beberapa derivat arte-misinin telah digunakan sebagai terapi untuk jenis malaria yang berbeda sejak tahun 1980. Artemisinin pertama kali ditemukan dan digunakan di Cina, kemudian penggunaannya meluas di beberapa negara. Artesunat merupakan salah satu derivat artemisinin yang telah digunakan secara luas baik di Asia Tenggara maupun Afrika dalam mengeradikasi Plasmodium falciparum.

Kombinasi antimalaria standard dengan ekstrak bahan alam masih jarang dilakukan. Padahal bahan alam merupakan sumber bahan antimalaria. Terapi kombinasi ini memiliki kelebihan selain mampu meningkatkan efektivitas ekstrak sebagai antimalaria juga mempunyai potensi memperlambat terjadinya resistensi parasit terhadap antimalaria standard.

Telah banyak dilakukan penelitian terhadap tanaman - tanaman yang memiliki khasiat sebagai antimalaria. Salah satu tanaman Indonesia yang potensial dikembangkan sebagai bahan antimalaria adalah Artocarpus champeden yang dikenal dengan nama lokal cempedak. Pada penelitian awal kami telah diketahui adanya aktivitas antimalaria dari fraksi kloroform kulit batang A. champeden pada mencit terinfeksi Plasmodium berghei. Selain itu pada ekstrak metanol dan ekstrak diklorometana telah dilakukan uji aktivitas antimalaria in vitro terhadap P. falciparum, klon 3D7. Hasil penelitian menun-jukkan bahwa ekstrak diklorometana (IC50 = 0,99 μg/mL) mempunyai aktivitas antimalaria yang lebih poten di-bandingkan ekstrak metanol (IC50 = 4,57 μg/mL). Dari ekstrak diklorometana ini diperoleh senyawa flavonoid terprenilasi (prenylated flavonoid), heteroflavanon yang aktif meng-hambat pertumbuhan parasit malaria P. falciparum, dengan aktivitas senyawa lima kali lebih kuat dibandingkan antimalaria standard yaitu klorokuin.

Untuk mendapatkan bahan baku obat fitofarmaka antimalaria yang aman dari tanaman cempedak maka telah dilakukan penelitian untuk menetapkan ekstrak etanol kulit batang cempedak sebagai ekstrak aktif dengan nilai ED50 0,24 mg/kg BB.

Sesuai dengan saran WHO tentang penggunaan ACT dalam terapi malaria, maka ingin diketahui bagaimana aktivitas ekstrak etanol cempedak ini bila penggunaannya dikombinasi dengan antimalaria standard artesunat. Oleh karena itu pada penelitian kali ini telah dilakukan terapi pada mencit terinfeksi P. berghei dengan kombinasi ekstrak etanol 80% kulit batang cempedak dan Artesunat yang merupakan salah satu turunan Artemisinin. Terapi kombinasi tersebut dilakukan dalam berbagai model, sehingga dari model terapi tersebut didapatkan gambaran tentang aktivitas antimalaria yang dihasilkan.

Selengkapnya mengenai Penelitian Tentang Buah Cempedak dengan judul "Model Terapi Kombinasi Ekstrak Etanol 80% Kulit Batang Cempedak (Artocarpus Champeden Spreng.) dan Artesunat pada Mencit Terinfeksi Parasit Malaria". silakan sobat (download).

itulah tadi posting Contoh Penelitian Tentang Buah Cempedak. semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam

0 komentar:

Poskan Komentar