Kamis, 13 September 2012

Contoh Penelitian Buah Jengkol :: Aktivitas Penangkap Radikal Ekstrak Ethanol 70% Biji Jengkol

Contoh Penelitian Buah Jengkol

Selamat datang di blog Jurnal Pendidikan. Sobat Jurnal Pendidikan Pada kesempatan kali ini admin akan berbagi artikel tentang Contoh Penelitian Tentang Buah Jengkol dengan judul "AKTIVITAS PENANGKAP RADIKAL EKSTRAK ETHANOL 70% BIJI JENGKOL (Archidendron jiringa)" yang disusun oleh sobat Zakky Cholisoh dan Wahyu Utami (Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta). atau mungkin sobat pendidikan ingin terlebih dahulu membaca posting sebelumnya yang membahas tentang "Kriteria Dalam PTK (Penelitian Tindakan Kelas)".semoga bermanfaat.


AKTIVITAS PENANGKAP RADIKAL EKSTRAK ETHANOL 70% BIJI JENGKOL (Archidendron jiringa)
Zakky Cholisoh dan Wahyu Utami
Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta

ABSTRAK
Tanaman jengkol (Archidendron jiringa) dikenal mempunyai biji yang digemari rasanya, tetapi juga dihindari karena baunya. Beberapa tanaman yang berbau menusuk seperti petai, takokak, dan bawang diketahui mempunyai aktifitas antioksidan yang tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan adanya aktifitas penangkap radikal dan antioksidan dari biji jengkol. Penelitian dilakukan dengan mengukur daya tangkap ekstrak etanol 70% biji jengkol terhadap radikal stabil DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) secara spektrofotometri. Uji aktifitas penangkap radikal dilakukan dengan pembanding vitamin C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% biji jengkol mempunyai aktivitas penangkap radikal dengan IC50 (Inhibition Concentration 50%) sebesar 159,46ug/ml. Aktifitas penangkap radikal ekstrak etanol 70% biji jengkol lebih kecil daripada vitamin C.

Kata kunci: penangkap radikal, antioksidan, Archidendron jiringa

PENDAHULUAN
Spesies Oksigen reaktif (ROS= Reactive Oxygen Species) termasuk radikal superoksid, radikal hidroksil, hidrogen peroksidase, dan lipid peroksida radikal diperlukan oleh tubuh untuk proses signaling dan proses fagositosis bakteri, akan tetapi adanya ROS yang berlebihan diindikasikan merupakan penyebab utama dari proses penuaan dan banyak penyakit, seperti asma, kanker, penyakit kardiovaskular, katarak, inflamasi saluran pencernaan, liver, dan penyakit inflamasi lainnya (Finkel and Holbrook, 2000).

Spesies radikal oksigen ini diproduksi secara normal oleh tubuh sebagai konsekuensi dari proses biokimia apabila terdapat kenaikan paparan xenobiotic baik dari makanan atau lingkungan pada tubuh.

Mekanisme perusakan sel oleh radikal bebas berawal dari teroksidasinya asam lemak tak jenuh pada lapisan lipid membran sel, reaksi ini mengawali terjadinya oksidasi lipid berantai yang menyebabkan kerusakan membran sel, oksidasi lebih jauh akan terjadi pada protein yang berakibat fatal dengan rusaknya DNA. Diperkirakan sebagian penyakit yang disebutkan di atas diawali oleh proses perusakan ini (Cook and Samman, 1996).

Sebenarnya tubuh mempunyai sistem antioksidan termasuk superoksid dismutase, katalase, dan glutation, akan tetapi jika terjadi paparan oksidan yang berlebihan antioksidan tubuh ini tidak akan mampu mengatasinya, sehingga tubuh memerlukan pasokan antiok-sidan dari luar (flavonoid, vitamin A, vitamin C, vitamin E, selenium, seng, dan L-sistein) (Nordmann, 1993).

Indonesia kaya akan tumbuh-tumbuhan baik sebagai sumber obat, atau makanan. Dari beberapa tumbuh-tumbuhan ini, terutama yang digunakan sebagai sumber makanan sehari-hari, mengandung senyawa kimia yang mempunyai aktifitas sebagai antioksidan, tetapi informasi ilmiah tentang aktifitas antioksidan dan antiradikal terutama pada tanaman yang biasa digunakan sebagai bumbu atau bahan makanan masih jarang ditemukan, padahal tanaman-tanaman tersebut potensial untuk dikembangkan sebagai obat dan nutraceuticals atau bahan makanan yang berkhasiat untuk mencegah dan atau mengobati penyakit. Sehingga pengujian tanaman-tanaman tersebut untuk mencari antioksidan alami masih tetap menarik dan diperlukan.

Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam penetapan aktivitas antioksi-dan dan antiradikal, metode penangkapan radikal dengan radikal buatan stabil DPPH (2,2-difenyl-2-pikrylhydrasil hidrat) merupakan metode yang hasilnya dapat dipercaya, sehingga digunakan dalam beberapa penelitian skrining aktifitas antioksidan dalam jurnal–jurnal ilmiah baru.

Tumbuhan bahan pangan yang terbukti kaya antioksidan adalah takokak (Solanum tarvum), petai (Parkia speciosa), dan daun muda jambu mete (Anacardium occidentale). Ketiga bahan pangan itu memiliki aktivitas pembersih superoksida yang tinggi, yakni di atas 70% (Living, 199).

Jengkol (Archidendron jiringa) banyak ditemukan di hampir seluruh wilayah Indo-nesia, tanaman ini biasanya digunakan bijinya untuk dimasak maupun dimakan segar, akan tetapi mendapatkan nama (stigma) yang negatif karena baunya. Kandungan suatu tanaman dalam satu familia biasanya tidak berbeda jauh, petai salah satu jenis biji-bijian berbau tak sedap yang terbukti mempunyai aktifitas antioksidan yang tinggi berada dalam satu familia (Leguminosae) dengan jengkol, dengan dasar ini penelitian tentang aktifitas antioksidan dan aktifitas penangkap radikal biji jengkol perlu dilakukan sehingga akhirnya diharapkan nilai ekonominya akan meningkat, disamping itu perlu juga dilakukan skrining fitokimia awal untuk mengetahui gambaran kandungan kimia dalam biji jengkol terutama turunan polifenol dan flavonoid yang mendukung aktifitasnya sebagai antioksidan dan penangkap radikal.

Selengkapnya mengenai contoh penelitian buah jengkol diatas, silakan sobat jurnal pendidikan download, format pdf (klik disini)

Itulah tadi posting mengenai Contoh Penelitian Tentang Buah Jengkol. semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam

0 komentar:

Poskan Komentar