Kamis, 04 Oktober 2012

Contoh Penelitian Buah Kesemek :: Buah Kesemek: Potensi Sumberdaya Genetik Kabupaten Garut Jawa Barat

Contoh Penelitian Buah Kesemek

Selamat datang di blog Jurnal Pendidikan. Sobat Jurnal Pendidikan Pada kesempatan kali ini admin akan berbagi artikel tentang Contoh Penelitian Tentang Buah Kesemek dengan judul "Buah Kesemek: Potensi Sumberdaya Genetik Kabupaten Garut Jawa Barat" yang disusun oleh sobat Iskandar Ishaq dan Sobat Mochamad Noch (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat). atau mungkin sobat pendidikan ingin terlebih dahulu membaca posting sebelumnya yang membahas tentang "Contoh PTK Biologi".semoga bermanfaat.


BUAH KESEMEK: POTENSI SUMBERDAYA GENETIK KABUPATEN GARUT JAWA BARAT
ISKANDAR ISHAQ dan MOCHAMAD NOCH
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat
Jl. Kayu Ambon No. 80 Lembang-Bandung

ABSTRAK
Salah satu plasma nutfah tanaman yang dapat dijumpai di Kabupaten Garut adalah buah kesemek (Diospyros kaki L.f). Penyebaran tanaman kesemek adalah di Kecamatan Cikajang dan Cisurupan. Di wilayah itu terdapat dua kultivar, yakni kultivar Reundeu atau “Eureka” dan kultivar “Kapas” atau kultivar “Hachiya”. Karakteristik kultivar Reundeu/Eureka, antara lain ukuran buah sedang-besar dengan bentuk persegi; kerutan di sekitar kaliks/pangkal buah; warna kulit buah oranye; tekstur daging buah agak padat dan kering; warna daging buah kuning-oranye; fase pemasakan buah agak lama dibandingkan dengan kultivar Kapas/Hachiya, pertumbuhan tanaman lambat; daun gugur hampir sekaligus/serentak, sedangkan karakteristik kultivar Kapas atau Hachiya, antara lain ukuran buah besar dengan bentuk conical; kulit buah halus dan mengkilap berwarna oranye-tua sampai merah; warna daging buah kuning-tua; tekstur daging buah lunak (basah); rasa lebih manis dari kultivar Reundeu/Eureka. Usahatani kesemek sampai saat ini masih dikelola secara tradisional pada skala kecil di lereng perbukitan dan pekarangan rumah. Produksi buah kesemek merupakan hasil pengumpulan (collected product) tanaman yang ada sejak tahun 1900-an, dan bukan berasal dari penanaman bibit oleh petani sendiri. Penurunan populasi tanaman kesemek terjadi akibat petani mengganti tanaman kesemek dengan tanaman sayuran (kentang, kubis dan buncis). Masalah yang dihadapi petani adalah kurangnya pengetahuan teknik budidaya dan pascapanen, sedangkan permasalahan yang dihadapi oleh pedagang-pengumpul dan pengrajin industri pengolahan adalah kebutuhan inovasi teknologi tentang alat dan teknik proses serta introduksi diversifikasi produk olahan buah kesemek. Kebijakan pemerintah daerah setempat diperlukan untuk mendukung upaya konservasi dan pengembangan melalui dukungan inovasi teknologi serta pelatihan untuk diversifikasi produk olahan buah kesemek.

Kata kunci: Kesemek, Garut, potensi sumber daya genetik

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumberdaya genetik tanaman dan mempunyai keunggulan spesifik. Dua diantara sumberdaya genetik tanaman yang dapat dijumpai di Kabupaten Garut, Jawa Barat adalah buah kesemek dan sukun. Buah kesemek (Diospyros kaki L.f) merupakan salah satu jenis tanaman buah-buahan subtropis yang tergolong langka di Indonesia dan mempunyai potensi untuk dikembangkan (ISHAQ dan SUTRISNA, 2003). Namun demikian, data tentang produksi dan luas areal tanam buah kesemek tidak tersedia (RUHIYAT, 2006).

Menurut NG (1992), diketahui sebanyak 1500 ton per tahun buah kesemek yang berasal dari areal tanam di sebelah Utara Danau Toba, Sumatera Utara dikapalkan menuju Singapura. Perdagangan buah kesemek ini menghadapi persaingan yang sangat ketat, terutama dalam hal kualitas buah dengan beberapa negara pengekspor lainnya, seperti Selandia Baru, Australia, Jepang dan Israel. Pada tahun 1986, produksi buah kesemek di Jepang mencapai 291.000 ton dari luas areal tanam 27.000 ha. Di Israel, diketahui dari 1.500 ha areal pertanaman buah kesemek, produksinya dapat diekspor ke negara-negara di Eropa, dan dikenal dengan nama “Sharon fruit”. Sementara itu, produksi buah kesemek di Jawa Barat dan Jawa Timur, di dataran tinggi Kameron, Malaysia, dan di Thailand sebelah Utara relatif rendah dan umumnya hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik saja.

Di Jawa Barat, penyebaran tanaman kesemek yang terluas dijumpai di Kabupaten Garut (Desa Giriawas, Cikajang) (TERRA, 1935 dalam NG, 1992). Pada wilayah ini sistem usahatani buah kesemek masih dikelola secara tradisional pada skala usaha yang kecil di lereng-lereng perbukitan dan di sekitar Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional 109 pekarangan rumah penduduk (ISHAQ dan SUTRISNA, 2003). Hasil buah kesemek yang dipasarkan dari daerah ini merupakan hasil pengumpulan (collected product) dari tanaman warisan yang sudah ada di daerah tersebut sejak tahun 1900-an dan bukan berasal dari penanaman bibit yang dilakukan oleh petani itu sendiri. Oleh karena produksi buah kesemek merupakan hasil pengumpulan, maka kuantitas dan kualitas buah kesemek di pasaran relatif beragam. Selain itu, ada kecenderungan penurunan populasi tanaman kesemek di daerah Garut, yang disebabkan oleh banyaknya petani yang mengganti tanaman kesemek dengan tanaman sayuran, seperti kentang, kubis, atau buncis (ISHAQ dan SUTRISNA, 2003).

Buah kesemek yang telah lunak dan masak setelah dipanen sehingga sifat “kekesatan”-nya (astringency) akibat kandungan zat tanin telah hilang dapat dimakan sebagai buah segar karena rasanya yang manis dan tekstur buah cukup keras (PECIS et al., 1986) atau dapat pula diproses menjadi berbagai bentuk makanan olahan lain, seperti dibuat menjadi puree, es krim, selai, jeli, dan lain sebagainya. Beberapa kultivar Astrinjen (astringent cultivars) dapat diproses menjadi bentuk olahan kering, seperti “sale” atau manisan. Hampir seluruh bagian buah kesemek dapat dimakan, kecuali kulit buahnya, dari 100 g bagian buah yang dapat dimakan, terkandung 80 g air, 0,7 g protein, 0,4 g lemak, dan 19,6 g karbohidrat, terutama fruktosa dan glukosa. Selain itu, buah kesemek juga kaya akan kandungan kalium dan vitamin A. Nilai energi 320 kJ per 100 g (NG, 1992).

Beberapa kegunaan (khasiat) dari buah kesemek yang biasa dimanfaatkan masyarakat di wilayah sentra produksi kesemek di Kabupaten Garut, adalah: (1) Daun: digunakan juga sebagai obat sakit perut (buang-buang air), penggunaannya dengan cara dikunyah beberapa saat dan kemudian ditelan; (2) Tangkai buah (Cupat): dipercaya dapat digunakan sebagai obat penurun panas dan meredakan demam, dengan cara: tangkai buah berikut seludangnya (kaliks) diambil (dipisahkan) dari daging buah, lalu dikeringkan, setelah kering direndam dalam air panas, tunggu hingga air rendaman menjadi hangat dan diminumkan kepada penderita; dan (3) Daging buah: selain mengandung vitamin A, juga dapat dimanfaatkan untuk mengobati keracunan makanan, sebagai penetralisir racun dalam tubuh, dengan cara memakan daging buah yang telah masak (tua) di pohon.

Mengingat nilai gizi dan potensi ekonomi yang dimiliki buah kesemek maupun sukun serta adanya ancaman kepunahan akibat konversi tanaman serta konversi penggunaan lahan, maka perlu adanya upaya serta langkah kongkrit yang didukung melalui kebijakan pemerintah dalam rangka melestarikan tanaman tersebut, khususnya di Kabupaten Garut.

Tujuan penelitian
Mengetahui status usahatani buah kesemek sebagai salah satu aset sumberdaya genetik di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Selengkapnya mengenai Contoh Penelitian Buah Kesemek diatas, silakan sobat jurnal pendidikan download, format pdf (klik disini)

Itulah tadi posting mengenai Contoh Penelitian Tentang Buah Kesemek. semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam

0 komentar:

Poskan Komentar