Minggu, 14 Oktober 2012

Contoh Penelitian Buah Lontar :: Re_Positioning Desa Sejuta Lontar Berdasarkan Analisis Swot

Contoh Penelitian Tentang Buah Lontar

Selamat datang di blog Jurnal Pendidikan. Sobat Jurnal Pendidikan Pada kesempatan kali ini admin akan berbagi artikel tentang Contoh Penelitian Buah Lontar dengan judul "Re_Positioning Desa Sejuta Lontar Berdasarkan Analisis Swot" yang disusun oleh sobat Achmad Daengs GS dan sobat Aridha Prassetya (Fakultas Ekonomi Universitas 45 Surabaya). atau mungkin sobat pendidikan ingin terlebih dahulu membaca posting sebelumnya yang membahas tentang "Contoh Penelitian Buah Langsat :: Identifikasi Keragaman Buah Langsat di Kalimantan Selatan".semoga bermanfaat.


RE_POSITIONING DESA SEJUTA LONTAR BERDASARKAN ANALISIS SWOT
(Studi pada Desa Hendro Sari Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur)
Achmad Daengs GS
Aridha Prassetya
email : bumigora@gmail.com
Fakultas Ekonomi Universitas 45 Surabaya


ABSTRAK
Penelitian ini berfokus pada kegiatan ekonomi di pedesaan. Obyek penelitian adalah desa Hendro Sari Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik. Penelitian ini menarik karena adanya potensi tanaman Lontar seluas kurang lebih delapan puluh hektar, yang ternyata dapat merupakan inspirasi sumber penghidupan bagi penduduk setempat. Hasil dari tanaman Lontar yang utama diunggulkan adalah minuman yang berasal dari deresan bunga Lontar. Minuman ini dapat menjadi dua bentuk atau jenis, yakni legen dan toak. Legen, sebagian masyarakat masih mengidentikkannya dengan toak, padahal toak memiliki efek memabukkan bagi peminumnya, sementara legen tidak. Toak adalah legen yang telah mengalami fermentasi setelah didiamkan sekitar kurun waktu 3 jam. Legen dan toak,telah menjadi sumber penghidupan penduduk desa Hendro Sari secara turun temurun dari generasi ke generasi. Oleh karenya, ketika krisis terjadi, kemampuan perempuan-perempuan di desa ini dalam hal memasak dan meramu bumbu membawa berkah tersendiri. Makin lama muncullah pengusaha warung-warung legen maupun toak, yang didalamnya dilengkapi dengan menu ayam panggang dan ragam ikan.

Kata Kunci ; positioning, repositioning, Lontar, ekonomi, swot


ABSTRACT
This research focuses on economic activities in rural areas. The object of this research is Hendro Sari village. District of Menganti, Gresik Regency. This research is interesting because there was potential for palm plants of approximately eighty acres, which in fact, can be an inspiration of source of livelihood for local society. The most excellent result from palm plant is the drinks that come from tapped tree to extract sap of the palm flower. These drinks can be two forms or types, namely legen (unfermented palm wine) and toak (fermented palm wine). Some people still identically with toak, whereas toak has a heady effect for the drinkers, while legen is not. Toak is legen that has undergone fermentation after settling around within 3 hours. Legen and toak has been the source of livelihood of the Hendro Sari villagers hereditary from generation to generation. Therefore, when the crisis was occurred, the ability of the women in this village in terms of cooking and mix seasoning are brought the blessings for themselves. As the time went on, entrepreneurs emerged the stalls of toak and legen, which is prepared with menu of grilled chicken and varieties of fish.

Keyword : positioning, repositioning, Lontar, economic, swot.


PENDAHULUAN
Dimanapun, krisis adalah sebuah persoalan yang perlu diwaspadai. Akibat krisis antara lain adalah kelaparan, kemiskinan, pengangguran dan kriminalitas, meskipun pada sebagian masyarakat, ada yang diuntungkan oleh kondisi krisis. Persoalan yang timbul sebagai dampak dari krisis dapat diatasi dengan cara menggiatkan aktivitas yang dapat menjamin kontinuitas kehidupan ekonomi masyarakat. Kontinuitas kehidupan ekonomi pada gilirannya akan meningkatkan daya beli dan kesejahteraan masyarakat yang bersangkutan.

Banyak ahli ekonomi sepakat bahwa sektor pertanian dianggap paling tahan terhadap guncangan. Indonesia adalah negara besar dengan ragam daerah menghasilkan ragam komoditas pertanian dan budaya. Sebetulnya, dari dua poin ini saja, yakni pertanian dan budaya, apabila ditangani dengan serius, akan dapat menggiatkan kehidupan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, maka kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat, dapat tercapai.

Persoalannya adalah bahwa tidak semua segmen masyarakat mampu mengenali potensi di sekitarnya. Seandainyapun mereka mampu mengenali potensinya, ’tidak semuanya memiliki kepekaan yang memadai’ untuk mewujudkannya menjadi suatu kegiatan ekonomi yang dapat menghasilkan, berbagai sumber mata pencaharian.

Hendro Sari, sebuah desa yang terletak sekitar 7 kilo meter dari perbatasan antara wilayah Surabaya Barat dan Gresik merupakan salah satu dari ratusan desa yang ada di Jawa Timur, yang berhasil menemukan sekaligus menyadari potensi desanya. Lebih jauh lagi, desa ini mampu mewujudkan potensi desanya menjadi suatu kegiatan ekonomi yang menghasilkan. Dari luas desa yang 192 hektar, 75 hektar merupakan luasan area yang ditumbuhi pohon siwalan (Lontar). Dari pohon inilah secara turun temurun masyarakat desa ini menuai penghasilan untuk menghidupi keluarganya.

Yang menarik adalah ketika sebelum krisis 1997, out put dari pohon Lontar yang dapat dijual hanyalah minuman yang dihasilkan dari bunga Lontar (Legen dan Toak) dan buah Lontar. Tetapi kondisi krisis justru mampu menstimulasi masyarakat setempat mengemas sedemikian rupa out put dari tumbuhan Lontar tersebut.

Legen dan buah dilengkapi dengan menu komplemen khas desa, ayam dan ikan bakar. Bahkan luasan area lahan yang ditumbuhi rindang tumbuhan Lontar pun, ternyata juga merupakan daya pikat dan memiliki nilai jual tersendiri.

Sejak tahun 2001, kehidupan ekonomi masyarakat setempat mengalami peningkatan. Warung – warung di area ini mulai bertambah jumlahnya. Menu yang wajib ada pada setiap warung adalah minuman legen. Sementara hasil survey awal, wawancara dengan para konsumen menyatakan bahwa rasa khas legen dan bumbu khas ayam bakar desa ini tidak ditemui di tempat lain.

Kini masyarakat desa ini, tak lagi harus susah susah mengayuh sepeda ke kota untuk menjual hasil kebunnya, karena masyarakat di luar sudah mulai banyak mengenal desa ini. Bahkan desa Hendro Sari oleh masyarakat sudah diidentikkan dengan pohon siwalan (yang dimaksud adalah tumbuhan Lontar). Pohon siwalan dan Legen yang dihasilkan sudah merupakan trade mark desa Hendro Sari.

Beberapa fenomena yang menarik untuk diamati, terjadi di desa ini :
  1. Hingga saat ini, ayam kampung dan ragam ikan yang merupakan bahan hidangan lauk sebagai komplemen dari minuman andalan yang dihasilkan dari tumbuhan Lontar, justru dipasok dari tempat lain, bukan dari desa setempat.
  2. Menurunnya minat generasi muda untuk tetap membudidayakan tumbuhan pohon Lontar ini, mereka belum melihat adanya peluang yang ada di depan mata, namun justru kebanyakan lebih tertarik bekerja di pabrik atau industri pengolahan yang juga makin tumbuh subur di sekitar wilayah ini.
  3. Tumbuhnya industri pengolahan dan permukiman baru disinyalir akan mempersempit area lahan tumbuhan pohon siwalan di desa ini.
  4. Penyalahgunaan minuman ini oleh sebagian konsumen pendatang untuk mabuk-mabukan (dikonsumsi sebagai arak bukan Legen).
Fenomena ini sangat menarik untuk dikaji dan dianalisis dalam rangka menghasilkan pemikiran ke depan bagi sebuah desa yang sebenarnya memiliki nilai jual yang tinggi, namun terancam kontaminasi pertumbuhan modernitas.

RUMUSAN MASALAH
Bagaimana membangun sinergi yang kuat antara masyarakat petani Lontar dan masyarakat desa Hendro Sari, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik Jawa Timur dengan masyarakat Industri yang mulai tumbuh di sekitar wilayahnya, agar desa ini mendapat positioning yang tepat di benak pasarnya ?

TINJAUAN TEORI
Teori yang dirujuk dalam penelitian ini adalah teori pemasaran khususnya produk, positioning dan pemasaran daerah.

Produk
Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada pasar, untuk memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan, termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, acara, orang, tempat, properti, organisasi, informasi dan ide (Kotler & Keller, 2008).

Berdasarkan definisi tersebut, dikemukakan produk adalah segala sesuatu. Tempat, juga merupakan produk. Tempat dengan segala atribut yang meliputinya dapat ditawarkan kepada pasar (segmen tertentu) untuk memuaskan kebutuhan mereka. Dengan demikian, dalam konteks pengkajian ilmu pemasaran, desa Hendro Sari dapat dianalogkan sebagai produk.

Positioning
Positioning adalah tindakan merancang penawaran dan citra perusahaan agar mendapatkan tempat yang khusus dalam pikiran pasar sasaran. Tujuannya adalah menempatkan merek dalam pikiran konsumen untuk memaksimalkan manfaat potensial bagi perusahaan (Kotler & Keller, 2008)

Definisi tersebut menggagas positioning dalam konteks perusahaan, namun demikian dalam praktek, sesuai dengan definisi produk (yang juga menurut Kotler & Keller, 2008), tempat dapat merupakan produk yang ditawarkan. Dalam relevansinya dengan penelitian ini, maka desa Hendro Sari adalah produknya, sementara pemerintah pada tingkat kelurahan berperan sebagai produsen/perusahaannya.

Positioning berkenaan dengan benak/pikiran pasar. Lebih jauh lagi, Al Ries dan Trout (2001), mengemukakan bahwa positioning is not what you do to the product, but positioning is what you do to the mind of your prospect. Positioning adalah usaha untuk mendapatkan tempat dalam ruang benak/pikiran pelanggan/prospek. Dalam kaitannya dengan penelitian ini adalah usaha pemerintah setempat untuk meletakkan kesan yang mendalam tentang desa Hendro Sari, di dalam benak atau pikiran para pengunjung.

Memasarkan suatu Daerah
Dalam kondisi bangsa yang semakin mengalami pertumbuhan dan perkembangan, didukung dengan kenyataan pemberlakuan undang-undang otonomi daerah, maka daerah-daerah yang ada di Indonesia, secara ekonomis dihadapkan pada suatu tuntutan kemandirian. Inilah yang kemudian memicu operasionalisasi Undang-Undang yang salah kaprah, sehingga yang muncul adalah ego masing-masing daerah, berpikir dan bertindak tidak tepat, guna tujuan meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Cara yang benar menyikapi pemberlakuan Undang-Undang Otonomi Daerah adalah melalui persaingan yang fair antar daerah. Persaingan yang fair seyogianya ditumpu oleh pengetahuan yang benar tentang ilmu pemasaran.

Pada prinsipnya negara, daerah, kota, maupun desa, dapat dianalogkan sebagai suatu produk. Sebuah produk akan laku terjual dan dapat memperoleh keuntungan, hanya apabila ia memiliki nilai jual. Dengan demikian negara, daerah, kota dan desa juga memiliki nilai. Nilai ini dapat dijual. Inilah yang dinamakan dengan value. Dalam tataran sebuah negara, daerah, kota maupun desa, ada yang namanya target market. Menurut Kartajaya (2005), target market suatu negara, ada empat, yaitu :
a. Visitor (pengunjung), baik business maupun non business visitor.
Negara, daerah, kota dan desa harus berusaha dapat menarik pengunjung untuk datang, baik pengunjung yang melakukan aktivitas bisnis maupun pengunjung non bisnis, yang hanya sekedar berkunjung untuk berwisata.

b. Resident
Sebuah negara, daerah, kota maupun desa harus dapat mempertahankan penduduknya untuk tidak tertarik meninggalkan negara, daerah, kota, maupun desanya. Faktor mengapa terjadi apa yang dinamakan brain-drain adalah dikarenakan negara, daerah, kota maupun desa tersebut tidak menarik untuk dijadikan tempat tinggal, maupun tempat aktivitas bisnis yang menguntungkan.

c. Business industry
Negara, daerah, kota maupun desa harus dapat menarik perhatian industri sehingga industri ini bersedia menginvestasikan asetnya di sana. Dengan demikian akan terjadi hubungan yang sinergis antara keduanya. Faktor yang membuat industri tidak tertarik adalah karena negara, kota, daerah ataupun desa tidak menarik secara bisnis.

d. Export market
Negara, daerah, kota dan desa, agar memiliki suatu nilai, maka harus dapat menciptakan suatu tawaran yang dapat menarik export market untuk datang dan atau bersedia mengadakan suatu transaksi yang menguntungkan.

METODE PENELITIAN
Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Gresik, penelitian ini bersifat kualitatif yang berupaya mendeskripsikan suatu gejala kemasyarakatan. Pengambilan data primer dilakukan melalui pengamatan dan wawancara mendalam dengan sejumlah responden, sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi dokumen, studi kepustakaan dan jurnal ilmiah.

PEMBAHASAN
Kegiatan Ekonomi Desa Hendro Sari
Dalam relevansinya dengan sumber daya alam yang ada, maka Lontar merupakan satu-satunya potensi yang utama di desa Hendro Sari. Dari tanaman Lontar penduduk desa ini dapat menghidupi keluarganya secara turun-temurun. Dengan kata lain Lontar merupakan penggerak utama (prime-mover), kegiatan ekonomi di desa ini. Mereka bergerak dari Warung Toak, yang kemudian berkembang menjadi restoran ayam panggang, meskipun dalam restoran itupun tetap dihidangkan minuman toak.

Dampak dari peningkatan kegiatan ekonomi adalah kemajuan dalam pemikiran akan pentingnya pendidikan. Sekarang ini banyak sarjana yang dihasilkan dari desa ini. Bahkan staf BPD (Badan Permusyawaratan Desa), meng-klaim bahwa jumlah sarjana asal desa ini adalah yang terbanyak jumlahnya dibanding sarjana yang dihasilkan oleh desa lain di wilayah yang sama, yakni Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik. Sedih memang, bahwa sebuah Masjid yang cukup megah juga dibangun dengan swadaya dari penduduk desa setempat, yang notabene adalah bersumber dari hasil menjual minuman dari tumbuhan Lontar ini.

Selengkapnya mengenai Contoh Penelitian Buah Lontar diatas, silakan sobat download, filetype:pdf (klik disini)

Itulah tadi posting mengenai Contoh Penelitian Tentang Buah Lontar. semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam

0 komentar:

Poskan Komentar