Rabu, 14 November 2012

Contoh Penelitian Buah Melon :: Identifikasi Berat Diameter Dan Tebal Daging Buah Melon (cucumis melo, l.) Kultivar Action 434 Tetraploid Akibat Perlakuan Kolkisin

Contoh Penelitian Tentang Buah Melon

Selamat datang di blog Jurnal Pendidikan. Sobat Jurnal Pendidikan Pada kesempatan kali ini admin akan berbagi artikel tentang Contoh Penelitian Buah Melon dengan judul "Identifikasi Berat Diameter Dan Tebal Daging Buah Melon (cucumis melo, l.) Kultivar Action 434 Tetraploid Akibat Perlakuan Kolkisin" yang disusun oleh sobat Y. Ulung Anggraito (FMIPA Universitas Negeri Semarang). atau mungkin sobat pendidikan ingin terlebih dahulu membaca posting sebelumnya yang membahas tentang "Contoh Penelitian Buah Markisa :: Kinetika Perubahan Lama Larut Tablet Effervescent Sari Buah Markisa Selama Penyimpanan".semoga bermanfaat.


IDENTIFIKASI BERAT, DIAMETER, DAN TEBAL DAGING BUAH MELON (Cucumis melo, L.) KULTIVAR ACTION 434 TETRAPLOID AKIBAT PERLAKUAN KOLKISIN
Y. Ulung Anggraito
Jurusan Biologi Gd. D1 Lt. 1 FMIPA Universitas Negeri Semarang 50229

ABSTRACT
Indonesian farmers are very dependence on certificated seed from another countries. In the other side the natural resources and men powers very abundance. For these reason it is properly developed the research in agriculture sector, especially on plants breeding. It can be hoped that in the future the dependence on certificated seed from another countries can be minimized. The objective of this research were: (1) to find out the concentration and dipping period which is effective to induce polyploid in musk melon plant, (2) identify the weight, diameter, dan flesh thickness of tetraploid musk melon as result of colchicines treatment. The sample of this research was Action 434 musk melon cultivar, product of Chia-Thai Seed, Thailand. The number of sample was 480 plants, which plants on field randomly. There were four colchicines concentration as an independent variable: 0.0%, 0.05%, 0.10% and 0.2%. The dipping period were 12, 16, 20, and 24 hours for each concentration respectively. Completely Random Design was used in three replications. Data measurement were analyzed with Two Way ANOVA, DMRT, and LSD. From this research can be concluded that: (1) 0.2 % colchicines is the most effective concentration to induce polyploid on musk melon, with dipping period effective varied from 16–24 hours, (2) there are changes in weight, diameter, and flesh thickness characters, with the increased tendency of each character in definite norm.

Key words: musk melon, colchicines, tetraploid

PENGANTAR
Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah, namun di sisi yang lain tingkat ketergantungan terhadap pengadaan benih unggul masih sangat tinggi. Untuk itu perlu dilakukan suatu gerakan pemberdayaan manusia Indonesia untuk mengolah segala sumber daya alam yang dimiliki secara bijaksana. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan kegiatan penelitian di sektor pertanian, khususnya dalam bidang pemuliaan tanaman. Pemuliaan tanaman bisa dilakukan dengan berbagai cara: persilangan, mutasi, atau melalui rekayasa genetik tanaman. Pemuliaan tanaman melalui mutasi kromosom sudah banyak dilakukan, khususnya menggunakan bahan kimia yang disebut kolkisin.

Setiap tanaman memberikan tanggapan yang berbeda terhadap perlakuan kolkisin, bergantung pada konsentrasi dan lama perendaman, termasuk juga tanaman melon. Kolkisin bisa menginduksi penggandaan set kromosom, sehingga menghasilkan tanaman poliploid. Tanaman poliploid memiliki karakter morfologis yang berbeda dengan tanaman diploid. Pengenalan karakter tanaman melon poliploid sangat penting untuk menentukan apakah suatu tanaman bersifat diploid ataukah poliploid.

Masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah: (1) pada konsentrasi kolkisin berapa yang efektif untuk menghasilkan melon tetraploid, (2) berapa lama waktu perendaman yang paling efektif, (3) perubahan faktor produksi apakah yang terjadi pada melon tetraploid. Dalam penelitian ini karakter yang akan diamati adalah berat buah, diameter buah, dan tebal daging buah melon.

Poliploidi adalah keadaan suatu individu yang memiliki lebih dari dua set kromosom (Welsh, 1991; Snustad et al., 1997; Griffiths et al., 1999). Saat ini sudah dikenal berbagai tanaman poliploid, misalnya kentang, pir, apel, jeruk, dan anggur. Senyawa-senyawa kimia seperti asenaften, etilmetil-klorida, dan sulfamida diketahui dapat menginduksi poliploid pada tanaman (Allard, 1988).

Ciri-ciri fisik tanaman poliploid yang umum (Griffith et al., 1999; Ramirez, 1991) adalah meningkatnya ukuran sel, laju pertumbuhan sel lambat, daun lebih tebal, bunga lebih besar dan sedikit, buah lebih besar, serta menurunnya fertilitas pada berbagai tingkat dibandingkan dengan tanaman diploid. Pada tanaman jagung poliploid memiliki fisik tanaman yang lebih besar, kokoh, dengan kandungan vitamin A yang meningkat (Crowder, 1993). Poliploidi banyak dijumpai pada berbagai macam tanaman. Avers (1989) dan Ramirez (1991) memperkirakan sekitar 47% spesies Angiospermae dan hampir 70% rerumputan bersifat poliploid.

Kolkisin adalah suatu alkaloid yang dihasilkan oleh tanaman krokus (Colchicum autumnale, L.) yang banyak ditanam di Eropa, India, dan Afrika Utara (Snustad et al, 1997). Rumus molekul kolkisin adalah C22H25O6N. Kolkisin diperdagangkan dalam bentuk serbuk halus berwarna putih. Senyawa ini memilki sifat mudah larut dalam air dan digunakan dalam konsentrasi rendah. Menurut Gunarso (1989), untuk menginduksi poliploidi pada tanaman, kolkisin efektif digunakan pada konsentrasi 0,01–1,00%, dengan lama waktu perendaman 6–72 jam. Kolkisin, efektif dalam penggunaannya karena menghasilkan persentase poliploid yang lebih tinggi dibandingkan senyawa lain, pada konsentrasi nontoksik untuk tanaman (Allard, 1988).

Gelendong pembelahan (spindle) sebagai aparatus mitosis, tersusun dari mikrotubula dalam bentuk dublet. Dublet mikrotubula tersusun dari dua buah mikrotubula singlet, sedangkan mikrotubula singlet tersusun dari protofilamen. Protofilamen merupakan polimer dari dimer protein tubulin a dan b. Kerja kolkisin pada dasarnya adalah menghambat pembentukan mikrotubula. Kolkisin akan berikatan dengan dimer tubulin a dan b, sehingga tidak terbentuk protofilamen. Dengan tidak terbentuknya protofilamen maka tidak terbentuk mikrotubula singlet dan mikrotubula dublet, yang berakibat tidak terbentuknya gelendong pembelahan. Dengan terhambatnya pembentukan spindel pembelahan, maka kromosom yang sudah dalam keadaan mengganda tidak dibagi ke arah berlawanan (Albert et al., 1991). Selain kolkisin sudah banyak senyawa antimitotik yang memiliki kemampuan sama dengan kolkisin, misalnya colcemid, nacadazole, vinblastin, dan vincristin.

Penggunaan kolkisin bisa dengan berbagai cara, misalnya imersi biji, imersi jaringan, imersi meristem, imersi akar, penetesan, pengolesan pasta, dan emulsi (Gunarso, 1989). Pada dasarnya penggunaan kolkisin sangat bergantung pada tujuan, bahan, dan luasnya penggunaan. Namun dari sekian metode yang relatif paling murah dan mudah adalah imersi (perendaman) biji. Hal yang perlu diperhatikan adalah batas konsentrasi dan lama waktu perendaman dalam kolkisin yang paling tepat untuk setiap tanaman. Karena setiap tanaman memiliki karakteristik pelindung biji yang khas, sehingga kemampuan kolkisin untuk menembus lapisan pelindung biji akan sangat bervariasi.

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah: (1) mengetahui konsentrasi dan lama waktu perendaman dalam kolkisin yang efektif untuk menginduksi poliploidi pada tanaman melon, (2) mengidentifikasi perubahan faktor produksi melon tetraploid akibat perlakuan kolkisin. Karakter yang diamati adalah berat buah, diameter buah, dan tebal daging buah.

Dengan melakukan penelitian ini, diharapkan dapat: (1) memberikan informasi bagi para pemulia tanaman mengenai konsentrasi kolkisin dan lama waktu perendaman yang efektif untuk menginduksi poliploidi pada melon, (2) memberikan informasi perubahan karakter yang terjadi pada buah melon setelah perlakuan dengan kolkisin, (3) memberikan sumbangan plasma nutfah (variasi genetik) untuk pengembangan budidaya melon.

Selengkapnya mengenai contoh penelitian buah melon diatas, silakan sobat download, filetype:pdf (klik disini)

Itulah tadi posting mengenai Contoh Penelitian Tentang Buah Melon. semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam

0 komentar:

Poskan Komentar