Selasa, 22 Mei 2012

Contoh Penelitian Tentang Buah Gandaria :: Pengaruh Giberelin Dan Temperatur Terhadap Pertumbuhan Semai Gandaria (Bouea macrophylla Griffith)

Contoh Penelitian Buah Gandaria

Selamat datang di blog Jurnal Pendidikan. Sobat Jurnal Pendidikan Pada kesempatan kali ini admin akan berbagi artikel tentang Contoh Penelitian Tentang Buah Gandaria dengan judul "Pengaruh Giberelin Dan Temperatur Terhadap Pertumbuhan Semai Gandaria (Bouea macrophylla Griffith.)" yang disusun oleh sobat Hermalina Sinay (Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan Universitas Pattimura Ambon). atau mungkin sobat pendidikan ingin terlebih dahulu membaca posting sebelumnya yang membahas tentang "Contoh Penelitian Biologi :: KAJIAN BIOLOGI REPRODUKSI TANAMAN DURIAN (Durio zibethinus, Murray)". untuk versi original sobat bisa download melalui link palaing bawah sendiri (cz ada beberapa simbol yang tidak bisa saya terapkan disini dikarenakan keterbatasan). semoga bermanfaat.

ilustrasi

Pengaruh Giberelin Dan Temperatur Terhadap Pertumbuhan Semai Gandaria (Bouea macrophylla Griffith)
Hermalina Sinay
Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Pattimura Ambon

ABSTRACT
Gandaria (Bouea macrophylla Griffith), is one of the fruit plants belongs to family Anacardiaceae. Young fruits of gandaria are normally consumed as salad, while mature fruits are consumed as fresh fruit or juice. Recently, the population of gandaria is getting less due to people activity of cutting trees for housing. On the other hand, this activity is not followed by replanting new plants for maintaning this species.

Naturally, the seed of gandaria can germinate and grow, but its growth is slow. Treatments with cold or warm stratification, acid and organic solution or growth hormones can be applied to promote germination. Gibberellins is one of growth hormones that can promote seed germination.

The objectives of this research were to study the effects of gibberellins and temperature on seedling growth of gandaria. Samples used in this research were mature fruits of gandaria taken from Lateri Ambon. Variables measured were the speed of seedling emergence, plant height, and leaf number.

Factorial pattern of complete randomized block design was used in this research with the first factor were gibberellins concentrations which consist of 4 levels 0 ; 0,2 ; 0,4 and 0,8 ppm , and the second factor were temperature which consist of 3 levels 40C, 290C and 370C, each combination treatment with three replication. Data were analyzed using analysis of variance and followed by Duncan multiple range test (DMRT) at the significant level of 5%.

The results showed that gibberellins and temperature significantly increased the speed of seedling emergence, plant height, and leaf number with the highest value obtained in 0,2 ppm gibberellin at temperature 4oC treatment. The highest value of seedling emergence was obtained in 0,4 ppm of gibberellins concentration at temperature 40C treatment. It can be concluded that the best quality and quantity of seedling was obtained in treatment of 0,2 ppm gibberellin concentration at temperature 4oC .

Key words : Gandaria, gibberellins, temperature, and seedling growth.

PENDAHULUAN
Gandaria (Bouea macrophylla Griffith) adalah tanaman buah-buahan dari sub kelas Dycotiledoneae dan famili Anacardiaceae. Di Indonesia gandaria memiliki daerah penyebaran yang sempit, yakni di Pulau Sumatera, sebagian Jawa, Maluku, Kalimantan dan Papua (Anonimus, 2006). Buah gandaria matang dapat dimakan langsung sebagai buah segar, sedangkan buah mentah dapat dibuat sambal, rujak atau untuk lalapan. Secara ekonomis gandaria memiliki nilai penting karena penjualan buah ini dapat meningkatkan ekonomi keluarga.

Tanaman gandaria, khususnya di Ambon, biasanya tumbuh di daerah dekat pemukiman baik pada daerah dataran rendah maupun daerah dataran tinggi (Papilaya, 2007). Pada area penyebarannya itu, jumlah populasi tanaman gandaria semakin berkurang karena pohon gandaria ditebang dan lahan tempat gandaria tumbuh dijadikan lahan pemukiman. Berkurangnya populasi gandaria yang tidak disertai dengan budidayanya, akan mempercepat hilangnya spesies ini. Dalam kaitan dengan usaha pelestarian, maka dapat dikatakan bahwa gandaria tidak diupayakan pelestariannya melalui penanaman ulang atau usaha-usaha budidaya oleh masyarakat.

Secara alami biji gandaria dapat berkecambah dan tumbuh, meskipun untuk dapat berkecambah dan tumbuh dengan cepat diperlukan waktu antara 4-5 minggu. Untuk dapat berkecambah dan tumbuh dengan cepat, diperlukan perlakuan – perlakuan tertentu. Sejumlah perlakuan untuk memacu perkecambahan biji, antara lain dengan perlakuan kombinasi temperatur dan kelembaban tinggi, perendaman dalam larutan asam, pelarut organik, bahan kimia seperti asam sulfat, asam nitrat, potassium hidroksida, asam hidroklorit, thiourea dan perlakuan dengan hormon tumbuh seperti auksin, giberelin dan sitokinin (Sutopo, 2004). Dewasa ini penggunaan hormon pertumbuhan dalam penelitian di bidang pertanian sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Salah satu jenis hormon yang berpengaruh pada aktifitas pertumbuhan tanaman yaitu giberelin. Giberelin memacu terbentuknya enzim hidrolase yang dapat menguraikan bahan cadangan makanan pada biji untuk pertumbuhan kecambah (Salisbury dan Ross, 1995).

Moose et al., (1994) melaporkan bahwa giberelin dapat memacu pertumbuhan semai Pittosporum, dan
biji Festuca (Celiker et al., 2006). Aplikasi hormon lain misalnya etilen dapat mempengaruhi pelepasan dormansi sekunder pada biji Amaranthus caudatus L. (Kępczyński et al., 2006). Penelitian lain juga dilakukan oleh Acka et al., (2008) mengenai penggunaan giberelin dalam pertumbuhan pucuk dan karakteristik morfologi pada Juglans regia.

Selain hormon, temperatur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkecambahan biji. Banyak benih memerlukan temperatur khusus untuk perkecambahannya. Pengaruh temperatur terhadap pertumbuhan semai adalah dalam aktivitas enzim-enzim yang terlibat dalam metabolisme pertumbuhan semai (Sutopo, 2004). Perlakuan temperatur rendah dan tinggi juga dapat menghilangkan dormansi benih yang terjadi setelah biji dipanen atau dikeluarkan dari buah (after ripening ) (Bewley dan Black, 1994).

Perlakuan–perlakuan untuk memacu perkecambahan sebagaimana dijelaskan di atas, dapat dicobakan untuk memacu pertumbuhan semai gandaria. Gandaria sudah dikenal orang, akan tetapi belum ada penelitian ilmiah yang dilakukan untuk mengoptimalkan budidaya tanaman ini baik secara generatif maupun secara vegetatif khususnya di Maluku. Penelitian mengenai peranan giberelin maupun temperatur dalam memacu perkecambahan pada banyak spesies sudah banyak dilakukan, tetapi konsentrasi giberelin dengan kombinasi temperatur yang tepat untuk memacu pertumbuhan semai dan bagaimana pengaruhnya terhadap struktur anatomi biji pada tanaman gandaria belum diketahui. Permasalahan yang muncul dalam penelitian ini adalah : Apakah perlakuan giberelin dan temperatur dapat mempengaruhi pertumbuhan semai gandaria, dan pada perlakuan kombinasi giberelin dan temperatur yang mana terjadi pertumbuhan semai dengan kualitas dan kuantitas paling baik.

Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi dan menganalisis pengaruh giberelin dan temperatur terhadap pertumbuhan semai gandaria, dan mengidentifikasi jenis kombinasi perlakuan giberelin dan temperatur yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan semai dengan kualitas dan kuantitas yang paling baik.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Anatomi Tumbuhan, Laboratorium Fisiologi Tumbuhan dan Green House Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada bulan April sampai bulan Juni 2008.

Bahan untuk penelitian ini adalah biji gandaria dari kebun rakyat di desa Lateri Kota Ambon Maluku dengan kriteria seluruh kulit buah telah berubah warnanya dari hijau menjadi kekuningan, tanah kebun untuk penanaman biji. Daging buah dilepas dan bijinya diambil, dibersihkan dari lendir atau sisa-sisa daging buah yang melekat, dicuci dan dikeringanginkan selama 2-3 hari. Biji diseleksi dengan cara penimbangan untuk memperoleh berat biji yang seragam yaitu -+ 2-4 gram.

Biji terpilih/terseleksi dimasukan ke dalam gelas piala yang telah diisi larutan giberelin dengan konsentrasi 0 ; 0,2 ; 0,4 dan 0,8 ppm. Gelas piala berisi larutan giberelin dan benih dibiarkan selama 24 jam masing-masing 4 gelas piala dalam refrigerator (untuk temperatur 4oC), 4 gelas piala di dalam ruangan (untuk temperatur 29oC), dan 4 gelas piala dalam inkubator yang temperaturnya sudah diatur menjadi 37oC. Setiap perlakuan berisi 5 biji dan dibuat 3 ulangan.

Parameter yang diukur dan diamati adalah : kecepatan munculnya semai (diperoleh dengan mengidentifikasi waktu munculnya semai di permukaan tanah (dalam hari), pada perlakuan mana yang muncul lebih cepat, tinggi tanaman (dengan mengukur tinggi tanaman dari pangkal batang sampai tajuk tertinggi) dan jumlah daun pada tanaman berumur 43 hari setelah tanam.

Data dianalisis dengan menggunakan analisis keragaman (analisis variansi) dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (Duncan Multiple Range Test/ DMRT) (Hanafiah, 1994 ; Gomez dan Gomez, 1995), disajikan dalam bentuk tabel. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program komputer SAS versi 6.8.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kecepatan munculnya semai, Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun

Rata-rata kecepatan munculnya semai gandaria, tinggi tanaman dan jumlah daun setelah perlakuan giberelin dan temperatur ditunjukan pada Tabel 1.

Tabel.1. Kecepatan Munculnya Semai (hari), Tinggi Tanaman (cm), Jumlah daun (helai) Gandaria Pada Umur 43 HST Setelah Perlakuan Giberelin dan Temperatur

Waktu yang dibutuhkan oleh biji gandaria untuk berkecambah sampai muncul di permukaan tanah adalah 13 hari (paling cepat) yaitu pada kombinasi perlakuan G3T1 (konsentrasi giberelin 0,4 ppm pada temperatur 4oC), dan 27 hari (paling lama) pada kombinasi perlakuan G1T3 yaitu konsentrasi
giberelin 0 ppm pada temperatur 37oC.

Hasil analisis variansi pengaruh giberelin dan temperatur menunjukan bahwa perlakuan giberelin dan temperatur, serta interaksi antara kedua perlakuan memberikan pengaruh yang nyata dalam meningkatkan kecepatan munculnya semai gandaria. Adanya pengaruh giberelin dan temperatur terhadap kecepatan munculnya semai disebabkan karena giberelin memacu sintesis enzim hidrolitik untuk
penguraian bahan cadangan makanan yang ada di dalam biji. Dengan tersintesisnya enzim-enzim hidrolitik, maka energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan kecambah juga akan cepat dihasilkan, sehingga proses perkecambahan akan berlangsung cepat.

Tigabu dan Oden (2001) menyatakan bahwa perlakuan giberelin dengan konsentrasi 10-4M meningkatkan kecepatan munculnya semai pada Albizia. Biji gandum yang direndam dalam pada GA3 100 ppm sangat efektif dalam meningkatkan kecepatan munculnya semai dan meningkatkan ekspresi a-amilase pada temperatur rendah (Sultana et al., 2000).

Pengaruh temperatur rendah terhadap kecepatan munculnya semai disebabkan karena pada temperatur rendah, enzim-enzim tidak mengalami kerusakan, sehingga tetap dapat melakukan aktivitasnya dalam metabolisme pertumbuhan semai. Dalam Weber dan Jorensen (2000) dinyatakan bahwa kecepatan munculnya semai pada Pinus panderosa Dought. meningkat sampai 50% pada perlakuan temperatur rendah yaitu 10-15oC. Sedangkan temperatur tinggi tidak meningkatkan kecepatan munculnya semai karena temperatur tinggi umumnya mempengaruhi kerja enzim yang berfungsi dalam metabolisme perkecambahan biji.

Diketahui bahwa aktivitas enzim sangat dipengaruhi oleh temperatur dan kisaran temperatur optimum untuk aktivitas enzim adalah 0 – 20oC, dan pada temperatur di atas optimum, terjadi penurunan aktivitas enzim yang disebabkan karena terjadi denaturasi yaitu kerusakan enzim karena suhu tinggi (Wilbraham dan Matta, 1992).

Tinggi tanaman tertinggi ( Tabel 1) diperoleh pada kombinasi perlakuan G2T1 yaitu 14,65 cm, dan terendah pada kombinasi perlakuan G1T3 yaitu 2,53 cm. Hasil analisis variansi pengaruh kombinasi perlakuan giberelin dan temperatur menunjukan bahwa perlakuan giberelin dan temperatur, dan interaksi antara kedua perlakuan, memberikan pengaruh yang nyata dalam meningkatkan tinggi tanaman.

Efek nyata giberelin terhadap tinggi tanaman berkaitan dengan fungsi giberelin dalam pemanjangan dan pembelahan sel. Telah diketahui bahwa salah satu fungsi giberelin adalah menginduksi pemanjangan batang melalui pembelahan dan pemanjangan sel. Giberelin mengontrol secara langsung pembentangan pada sel tumbuhan dengan mengubah orientasi mikrofibril selulosa melalui perubahan orientasi mikrotubul kortikal, dan juga mengubah asosiasi antara mikrotubul dengan membran plasma (Shibaoka, 1993). Giberelin memacu pembentangan sel melalui stimulasi enzim dinding sel yaitu Xyloglucan Endotranslycosylase (XET) yang dapat memutuskan ikatanikatan pada molekul pembentuk dinding sel yaitu hemiseluluse yang menyebabkan komponen dinding yang lain yakni mikrofibril selulose berpindah tempat, sehingga menyebabkan pelebaran atau perluasan pada dinding sel (Dengler, 2008), dan ini memungkinkan pertambahan dalam ukuran sel yang menyebabkan tanaman bertambah tinggi.

Pengaruh temperatur terhadap tinggi tanaman, dan interaksinya dengan giberelin adalah pada aktivitas enzim yang mengkatalisis perubahanperubahan seperti pemanjangan atau pembentangan sel yang disebabkan oleh adanya giberelin, karena pada dasarnya semua aktivitas metabolisme dalam tubuh tumbuhan dikendalikan oleh enzim, dan aktivitas enzim ini sangat dipengaruhi oleh suhu (Dengler, 2008).

Jumlah daun yang paling banyak (Tabel 1) diperoleh pada kombinasi perlakuan G2T1 yaitu sebanyak 4,34 helai, dan jumlah daun terendah pada kombinasi perlakuan G1T2 dan G1T3 yaitu 2 helai. Hasil analisis variansi pengaruh perlakuan giberelin dan temperatur terhadap jumlah daun menunjukan bahwa perlakuan giberelin dan temperatur, dan interaksi antara kedua perlakuan meningkatkan jumlah daun secara signifikan.

Adanya pengaruh nyata giberelin dan temperatur terhadap jumlah daun mungkin berhubungan dengan kerja hormon lain seperti auxin. Dengan tersintesisnya IAA pada meristem apikal pucuk yang padanya terdapat primordia daun, akan memacu terbentuknya daun. GA3 100 ppm dan IAA 100 ppm meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah daun, tetapi jumlah daun maksimum diperoleh pada GA3 100 ppm diikuti dengan IAA 200 ppm yang menunjukan bahwa GA3 lebih efektif, dibanding IAA, dan ini menunjukan efek sinergis antara hormon satu dengan yang lain dalam mempengaruhi pertumbuhan tanaman (Kumar et al., 2002).

DAFTAR PUSTAKA
  1. Bewley, J.D. and Black, M. 1994. SEEDS : Physiology of Development and Germination. New York. Plenum Press.
  2. Celiker, S., Guelrvus, G., and Bilaglouw, R. 2006. Germination Respons To GA3 And Stratification Of Threatned Festuca L Species From Eastern Mediteranian. Turkey Journals Of Botany, 61(5-6) : 220-225.
  3. Dengler, N.G. 2008. Plant Development. Dari http:www.bioone/plant_developme nt.htm. Diakses 30 Juni 2008.
  4. Gomez, A. dan Gomez, K.A. 1995. Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian. UI-Press. Jakarta.
  5. Hanafiah, K.A. 2002. Rancangan Percobaan Teori dan Aplikasi. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
  6. Kępczyński, J., Bihun, M., and Kępczyńska, E. 2006. Implication of Ethylene in the Release of Secondary Dormancy in Amaranthus caudatus L. Seeds by Gibberellins or Cytokinin. Journals of Plant Growth Regulation, 48(2) : 450-454.
  7. Moose, S., Banister, P., And Jameson, P.E. 1994. Effect Of Low Temperature On Seed Germination Of Some New Zealand Species Of Pittosporum. New Zealand Journal Of Botany, 4 (32) : 483-485.
  8. Papilaya, P.M. 2007. Kajian Ekologi Gandaria (Bouea macrophylla) Hubungannya Dengan Produksi dan Kualitas Buah Pada Ketinggian Dari Permukaan Laut Yang Berbeda Di Pulau Ambon. (Suatu Analisis Tentang Tumbuhan Endemik Daerah Maluku). Universitas Negeri Malang. Disertasi : Tidak Dipublikasikan.
  9. Salisbury, F.B, dan Ross, C.W. 1995.Fisiologi Tumbuhan. Jilid 3. ITB : Bandung.
  10. Shibouka, H. 1993. Regulation By Gibberellins On The Orientation Of Cortical Microtubules In Plant cells. Australian Journals of Plant Physiology, 20(5) : 461-470.
  11. Sultana, N., Takeshi, I., Toshiaki, M. 2000. GA3 And Proline Promote Germination Of Wheat Seeds By Stymulating a-amylase At Unfavourable Temperatur. Plant Production Science, 3(3) : 232-237.
  12. Sutopo.L. 2004. Teknologi Benih. Rajawali Press. Jakarta.
  13. Tigabu, M., and Oden, P. 2001. Effect of Scarification, Giberellic Acid and Temperatur on Seed Germination of Two Multiporpose Albizia Species From Euthopia. Seed Science and Technology, 29(1) : 11-20.
  14. Tipirdamaz, R., and Gomurgen, A.N. 2000. The Effect Of Temperature and Giberrelic Acid on Germination of Eranthis hyemalis L. Seeds. Turkey Journals Of Botany, 55 (24) : 143-145.
  15. Weber, J.C., and Jorensen, F.C. 2000. Effect of Stratification Temperature on Seed Germination and Uniformity in Central Oregon

Untuk lebih jelas dan original mengenai Contoh Penelitian Buah Gandaria :: Pengaruh Giberelin Dan Temperatur Terhadap Pertumbuhan Semai Gandaria (Bouea macrophylla Griffith.)" versi PDF (klik disini)

sumber: fmipa.unlam.ac.id

itulah tadi posting Contoh Penelitian Tentang Buah Gandaria. semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam
»»  read more

Senin, 21 Mei 2012

Contoh Penelitian Biologi :: KAJIAN BIOLOGI REPRODUKSI TANAMAN DURIAN (Durio zibethinus, Murray)

Contoh Penelitian Biologi

Selamat datang di blog Jurnal Pendidikan. Sobat Jurnal Pendidikan Pada kesempatan kali ini admin akan berbagi artikel tentang Contoh Penelitian Biologi dengan judul "KAJIAN BIOLOGI REPRODUKSI TANAMAN DURIAN (Durio zibethinus, Murray)" yang disusun Oleh Sumeru Ashari (Staf dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang) dan sobat Sri Wahyuni (Mahasiswa program Studi Hortikultura, Fakutas Pertanian UB Malang). atau mungkin sobat pendidikan ingin terlebih dahulu membaca posting sebelumnya yang membahas tentang "Contoh Penelitian Tentang Buah Durian :: PENELITIAN EKOLOGI JENIS DURIAN (Durio spp.) DI DESA INTUH LINGAU, KALIMANTAN TIMUR".semoga bermanfaat.

ilustrasi

KAJIAN BIOLOGI REPRODUKSI TANAMAN DURIAN (Durio zibethinus, Murray)
1). Sumeru Ashari dan 2). Sri Wahyuni

ABSTRAK
Bunga mengambil peran penting dalam produksi tanaman. Penelitian biologi bunga dilakukan terhadap bunga durian, salah satu jenis bebuahan yang sehat dan bernilai ekonomis tinggi. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Februari 2007. Lokasi penelitian di kebun durian Desa Mendalanwangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, tinggi tempat sekitar 431 m dpl, suhu rata-rata harian 260C dan kelembaban 60%.

Lima kultivar durian, yaitu Monthong, Sitokong, Sunan, Hepe, dan Petruk yang berumur 10 tahun, digunakan sebagai materi penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode perkembangan bunga dan buah antara kultivar berbeda. Perbedaan terjadi pada setiap tahap perkembangan hingga kematangan buah. Total waktu yang ditempuh sejak berbunga hingga matang dari varietas Monthong, Petruk, Sunan, Sitokong dan Hepe berturutan adalah 178-214 hari, 185-214 hari, 193-214 hari, 193-214 hari, dan 207-214 hari. Nilai fruitset dari setiap kultivar juga berbeda. Kultivar Sunan menghasilkan fruitset paling tinggi diikuti Monthong, Petruk, Sitokong dan yang terendah kultivar Hepe.

1). Staf dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang
2). Mahasiswa program Studi Hortikultura, Fakutas Pertanian UB Malang
Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Hortikultura 2010 di Den Pasar, Bali, 25-26 November 2010.

LATAR BELAKANG
Jenis durian unggul yang sudah dirilis oleh pemerintah semenjak tahun 1984 hingga tahun 2009 adalah sebanyak 71 varietas. Durian rilisan tersebut berasal dari seluruh persada Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa setiap daerah mempunyai jenis unggulan sendiri. Keragaman jenis tersebut disebabkan karena kebanyakan tanaman durian tersebut berasal dari biji.

Masalah yang dihadapi dalam agribisnis durian adalah produksi yang masih labil sehingga kebutuhan nasional belum bisa dicukupi oleh produk dalam negeri. Produksi buah durian nasional tahun 2003 adalah sebanyak 741.831 ton dan pada tahun 2007 turun menjadi 594.842 ton. Sementara itu, impor buah durian pada tahun 2003 sebanyak 3.026 ton dan meningkat menjadi 21.827 pada tahun 2007 atau sekitar 700% (Wibawa, 2009).

Kelemahan produktifitas dan kontinyuitas suplai buah durian harus diselesaikan dengan penelitian yang serius, baik dalam aspek agronomi, fisiologi dan pemuliaan tanaman. Salah satu aspek agronomi-pemuliaan tanaman yang penting dalam produksi adalah pembungaan dan pembuahan. Dalam penelitian ini dilaporkan kajian perkembangan bunga dan buah beberapa durian unggul rilisan nasional yaitu Petruk, Sunan, Sitokong, dan Hepe. Selanjutnya varietas Monthong digunakan sebagai pembandingnya. Hipotesis yang hendak diuji adalah adanya perbedaan periode perkembangan bunga dan buah serta nilai fruit-set antar varietas rilisan tersebut.

BAHAN DAN METODE
Penelitian telah dilaksanakan di kebun durian Desa Mendalanwangi Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, tinggi tempat sekitar 431 m dpl, suhu rata-rata harian 260C dan kelembaban rata-rata 60%. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Februari 2007.

Alat yang digunakan dalam penelitian antara lain: penggaris, jangka sorong, kamera digital Canon powershot A430, mika, kawat dan cutter, sedangkan bahan yang digunakan terdiri dari tanaman durian varietas Monthong, Sitokong, Sunan, Hepe, dan Petruk berumur 10 tahun.

Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik observasi terhadap pembungaan dan perkembangan buah. Metode pengumpulan data sesuai dengan Singarimbun dan Effendi (1990).

Pohon durian yang digunakan sebagai sampel masing-masing terdiri dari 5 pohon, sehingga jumlah pohon semuanya adalah 25. Pohon dipilih yang seragam, dalam satu pohon diambil 15 contoh (dompol bunga) untuk pengamatan pertumbuhan dan perkembangan bunga dan fruit-set.

Secara keseluruhan objek yang diamati adalah jumlah bunga, waktu bunga mekar (dilakukan pada jam 06.00 WIB, jam 12.00 WIB, jam 15.00 WIB, serta jam 22.00 WIB). Waktu bunga rontok (dilakukan setiap jam 06.00 WIB, jam 12.00 WIB, jam 15.00 WIB, dan jam 22.00 WIB. Dalam penelitian ini digunakan analisis ragam dan menggunakan alat bantu SPSS versi 13,0 yang diolah dengan analisis oneway Anova.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembungaan dan perkembangan buah durian Perkembangan pembungaan periodik lima varietas tanaman durian dapat dilihat pada Tabel 1.


Keterangan: 1a. Muncul tunas bunga, 1b. Pertumbuhan tunas sampai muncul bunga, 2a. Pertumbuhan bunga, 2b. Bunga pecah sampai anthesis, 2c. Anthesis menuju rontok, 3. perkembangan dari anthesis ke kematangan buah.

Berdasarkan data yang tertera dalam Tabel 1 ternyata varietas Monthong memiliki minimal masa panen yang paling cepat dan varietas Hepe yang terlama. Masa pembungaan dari awal muncul bunga dan perkembangan tunas bunga masing-masing varietas sama yaitu 2 minggu setelah muncul tunas (msmt). Pada tahap pembungaan menuju anthesis varietas Monthong mekar lebih awal dibanding varietas lain. Perbedaan juga terjadi pada periode dari anthesis menuju kematangan buah. Pada periode ini Monthong memiliki periode pematangan buah yang lebih awal dibanding varietas lain, sedang antara varietas Petruk, Sunan, Sitokong, dan Hepe rata-rata sama.

Adanya variasi ini disebabkan karena ada perbedaan genetik dari masing-masing varietas yang memungkinkan terjadi perbedaan respon tanaman terhadap suhu lingkungan tumbuh. Calvo (1999) melaporkan bahwa ada perbedaan periode tahap pertumbuhan pada tanaman loquat antara varietas Cardona dan varietas San Filipparo disebabkan karena suhu. Perkembangan buah pada suhu rendah memperlambat perkembangan buah menuju kemasakan buah.

Bunga durian adalah bunga sempurna, yang memiliki benang sari dan putik serta memiliki kompartemen hiasan bunga yang lain. Organ bunga tiap varietas memiliki perbedaan, antara lain dalam jumlah benang sari dan aroma bunga. Hal ini menunjukkan ada perbedaan karakteristik bunga dari tiap varietas. Variasi organ seksual ini sebagaimana yang dilaporkan oleh Brown (2006). Dia menyatakan adanya perbedaan jumlah petal dari klone D88 dan klone D104, tertapi memiliki jumlah benang sari yang sama. Yacoob (1995), mengatakan bahwa bentuk bunga dan buah dapat digunakan untuk identifikasi varietas.

Perkembangan bunga durian

Perubahan bentuk bunga terjadi sesuai dengan umur bunga. Tunas bunga durian muncul pada cabang sekunder maupun tertier. Tunas yang muncul terus berkembang selama 3 minggu kemudian baru muncul bunga. Perkembangan tunas berakhir pada saat bunga mekar dan kemudian berkembang bersama perkembangan buah.


Gambar 2. Perkembangan bunga durian. 1. umur 3 msmt, 2. umur 4 msmt, 3. umur 5 msmt, 4. umur 6 msmt, 5. umur 7 msmt,6. umur 8 msmt, dan 7. umur 9 msmt. * msmt:minggu setelah mekar bunga

Periode pembungaan masing-masing varietas menunjukkan perbedaan. Waktu pembungaan paling awal adalah varietas Monthong diikuti Petruk, Hepe, Sitokong, dan Sunan. Periode pembungaan yang paling lama adalah varietas Monthong diikuti Hepe, Petruk, Sitokong, dan Sunan. Periode pembungaan tiap varietas dapat dilihat pada Gambar 3.


Gambar 3. Periode pembungaan durian

Waktu yang diperlukan untuk perkembangan bunga dalam penelitian ini dari inisiasi sampai bunga mekar adalah 6-7 minggu. Keadaan ini sesuai dengan pernyataan French (2001) bahwa pembungaan durian dari inisiasi sampai anthesis memerlukan waktu kurang lebih 6-8 minggu.

Mekar atau anthesis merupakan tahap pembukaan bunga yaitu saat bagian-bagian bunga siap untuk penyerbukan. Dari hasil diketahui bahwa waktu mekar tiap varietas terjadi pada sore sampai malam hari dan rontok pada akhir malam sampai pagi hari. Hal ini sesuai yang dilaporkan Lim (1997) bahwa anthesis bunga terjadi pada jam 15.30 sampai 18.00 dan rontok pada malam hari.

Waktu mekar dan rontok bunga

Mekar dan rontok bunga terjadi pada durian, masing-masing varietas menunjukkan perbedaan. Varietas Sunan waktu mekar lebih seragam dibanding Monthong, antara pukul 16.00 sampai pukul 18.00, sedangkan Monthong mekar lebih awal yaitu pukul 15.00 sampai pukul 22.00. Bunga yang mekar pada sore hari sekitar pukul 16.00 akan rontok pada malam sampai pagi hari. Pada varietas Sunan waktu rontok sebagian besar terjadi pada malam hari, karena waktu mekar bunga yang hampir seragam pada sore hari. Pada varietas Monthong waktu rontok lebih bervariasi, ada yang terjadi pada malam hari ada yang pada pagi hari.

Berat buah

Karakter buah dari beberapa jenis durian yang diuji menunjukkan perbedaan, lihat Tabel 2. Ukuran panjang dan diameter buah menunjukkan bentuk buah. Sebaliknya ukuran buah Varietas Monthong lebih besar dibandingkan dengan jenis lainnya.


Perkembangan buah durian

Buah terbentuk dari bakal buah setelah bunga mengalami penyerbukan dan pembuahan. Penyerbukan buah durian dibantu oleh serangga seperti lebah dan semut. Hal ini disebabkan bunga mengandung nektar dan beraroma harum yang dapat mengundang serangga. Setelah penyerbukan, mahkota dan benang sari akan layu dan rontok dan kemudian bakal buah akan berkembang menjadi buah. Ilustrasi pertumbuhan buah dapat dilihat pada Gambar 4.


Gambar 4. Perkembangan buah, 1.umur 1 msa, 2.umur 2 msa, 3.umur 3 msa, 4. umur 4 msa, 5. umur 5 msa dan 6. umur 6 msa. * msa: minggu setelah anthesis

Pembentukan buah durian terjadi setelah bunga anthesis yang secara tidak langsung diserbuki oleh serangga atau kelelawar (Ashari, 2002; 2006). Setelah penyerbukan mahkota dan benang sari akan layu dan rontok (6-12 jam setelah anthesis). Pelayuan dan perontokan mahkota dan benang sari ini disebabkan oleh pengangkutan air secara besar-besaran dari bunga ke bagian ovarium (Salisbury dan Ross, 1992).

Bakal buah durian yang berhasil dibuahi berkembang. Volume buah dari tiap minggu mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan pada saat perkembangan buah terjadi peristiwa pembelahan dan pembesaran sel dalam berbagai arah pertumbuhan yang menyebabkan perubahan perbandingan panjang dan diameter buah, sehingga terjadi perubahan bentuk buah (Hidayat, 1995).

Jumlah buah

Hasil pengamatan jumlah buah tiap varietas dapat dilihat pada Tabel 3. Jumlah buah dari yang tertinggi sampai terendah pada akhir pengamatan adalah Monthong, Petruk, Sunan, Sitokong dan Hepe. Jumlah buah dari minggu ke-1 sampai minggu ke-18 mengalami penurunan karena rontok. Penurunan jumlah buah paling tinggi pada minggu ke-3 yaitu Monthong 13 %, Petruk 7,1 %, Sunan 8,3 %, Sitokong 9,5 %, dan Hepe 0,6 %. Tetapi jumlah buah pada varietas Hepe mengalami penurunan paling tinggi terjadi pada minggu pertama setelah bunga rontok.


Keterangan: Angka yang didampingi huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan 5%.

Berdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa fruit-set dari antara varietas satu dengan varietas lain menunjukkan perbedaan. Fruit-set tertinggi pada varietas Sunan 2,96 % diikuti Monthong 2,03 %, Petruk 1,62 %, Sitokong 0,99 %, dan terendah Hepe 0,21 %. Rata-rata persentase fruit-set adalah 1,56 %. Produksi buah pada varietas Hepe, Sitokong, dan Petruk masih rendah dibandingkan dengan varietas Monthong dan Sunan.

Produksi buah pada varietas Hepe baik per cabang atau per pohon sangat rendah dibandingkan dengan produksi buah pada daerah asal. Yaacob (1995) mengemukakan bahwa produksi durian varietas Monthong 50-70 buah/pohon/tahun, dan varietas Petruk, Sunan, Sitokong, dan Hepe sekitar 50-200 buah/pohon/tahun. Hal ini disebabkan perbedaan respon masing-masing varietas terhadap lingkungan tumbuh. Jenis durian rilisan sudah sangat banyak, yaitu sekitar 67 jenis (Wibawa, 2009). Pengujian multi-varietas dalam hal ini pada lokasi yang berbeda sangat perlu dilakukan sehingga ditemukan jenis rilisan yang paling toleran untuk ditanam disebarang tempat di Indonesia.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian adalah sebagai berikut:
1. Periode tahap perkembangan bunga dan buah dari masing-masing varietas berbeda. Perbedaan terjadi pada tahap perkembangan buah menuju fase kematangan. Waktu total yang dibutuhkan dalam perkembangan buah dari varietas Monthong, Petruk, Sunan, Sitokong dan Hepe berturut-turut 178-214 hari, 185-214 hari, 193-214 hari, 193-214 hari, dan 207-214 hari. Monthong memiliki periode yang paling cepat.
2. Persentase fruitset dari masing-masing varietas berbeda. Varietas Sunan memiliki persentase fruitset paling tinggi diikuti varietas Monthong, Petruk, Sitokong dan yang terendah varietas Hepe.

2. Saran
1. Peningkatan kuantitas dan kualitas hasil durian perlu dilakukan perlakuan untuk mencegah kerontokan buah, baik dengan meningkatkan perawatan tanaman dan pemenuhan kebutuhan nutrisi tanaman pada saat yang tepat, perlu adanya penjarangan buah yang dapat dilakukan pada minggu 12 setelah anthesis, karena pada 12 msa buah sudah tidak mengalami kerontokan.
2. Perlu penelitian mengenai penyimpanan polen dari masing-masing varietas untuk kepentingan persilangan antar varietas.

DAFTAR PUSTAKA
  • Ashari, S. 2002. Pengantar Biologi Reproduksi Tanaman. PT. Rineka Cipta, Jakarta. ...pp.
  • Ashari, S. 2004. Biologi Reproduksi Tanaman Buah-buahan Komersial. Bayumedia publishing. Malang. Hal. 85–88.
  • Ashari, S. 2006. Hortikultura Aspek Budidaya. Universitas Indonesia Press. Jakarta. 495 pp.
  • Brown, M.J. 1997. Durio – Bibliographi Review. IPGRI Office for South Asia. New Delhi. P. 23-68
  • Carlo. J.M, M.L. Badenes, H. Bleiholder, H. Hack, G. Lacer, and U. Meier. 2002. Phenological Growth Stages of Loquat Tree (Eriobotrya japonica (Thunb.) Lindl.). Great Britain. Ann. Appl. Boil 140: 151-157
  • French, B. 2001. Durio zibethinus. http://ecoport.org/. Diakses 26 Juni 2006.
  • Hidayat, E.B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. ITB. Bandung
  • Lim, T.K, and L. Luders. 1997. Durian Flowering, Pollination and Incompatibility Studies. Great Britain. Ann. Appl. Boil 132: 151-165
  • Salisbury, F.B, dan C.W. Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3 (diterjemahkan oleh Dyah R Lukman dan sumaryono). ITB. Bandung
  • Yaacob, O, and S. Subhadrabandhu. 1995. The Production of Economic Fruits in South-East Asia. Oxford University Press. New York. P. 90–97.

sumber: drc.fp.ub.ac.id/doc/kajian_biologi_reproduksi_durian.pdf

itulah tadi posting Kajian Biologi Reproduksi Tanaman Durian (Durio zibethinus, Murray). semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam
»»  read more

Senin, 07 Mei 2012

Contoh Penelitian Tentang Buah Durian

Penelitian Tentang Buah Durian

Selamat datang di blog Jurnal Pendidikan. Sobat Jurnal Pendidikan Pada kesempatan kali ini admin akan berbagi artikel tentang Contoh Penelitian Tentang Buah Durian dengan judul "PENELITIAN EKOLOGI JENIS DURIAN (Durio spp.) DI DESA INTUH LINGAU, KALIMANTAN TIMUR" yang disusun Oleh sobat Muhammad Mansur (Peneliti di Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). atau mungkin sobat pendidikan ingin terlebih dahulu membaca posting sebelumnya yang membahas tentang "Contoh Penelitian Tentang Buah Duku :: SIFAT KIMIA DAN FISIKA BUAH DUKU ASAL BATANGHARI PADA BERBAGAI TINGKAT KEMATANGAN".semoga bermanfaat.

ilustrasi

PENELITIAN EKOLOGI JENIS DURIAN (Durio spp.) DI DESA INTUH LINGAU, KALIMANTAN TIMUR
Muhammad Mansur
Peneliti di Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Abstract
Ecological studies on the Durian (Durio spp.) in Intuh Lingau District, East Kalimantan Province was conducted on December 2005. One plot (0,6 ha) was establised at durian habitat for vegetation analysis. As the result, the forest type is secondary forest. Total number of trees (Stem diameter > 10 cm) were 183 individu which dominated by Durio zibethinus, Macaranga triloba, Ficus variegata, Octomeles sumatrana and Strombosia javanica. While, total number of sapling (stem diameter 2-9,9 cm) were 287 individu/0,15 ha which dominated by Leea rubra, Saurauia nudiflora, Monocarpia marginalis and Bridelia glauca. Vegetation structure and composition at study site will also discussed.

Key words: Vegetation structure and composition, Durian habitat, East Kalimantan.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Tipe hutan hujan tropik Indonesia merupakan ruang yang sangat cocok bagi tumbuhnya segala jenis buah-buahan tropik. Tercatat kurang lebih ada 329 jenis buahbuahan baik yang sudah dibudidayakan maupun yang masih tumbuh liar di hutanhutan. Jumlah tersebut sangatlah besar oleh karena dari jumlah jenis buah-buahan yang ada di seluruh kawasan Asia Tenggara yang jumlahnya mencapai 350 jenis, 94% terdapat di Indonesia.

Indonesia merupakan salah satu dari 8 pusat keanekaragaman genetika khususnya jenis buah-buahan tropik seperti durian, rambutan dan bacang. Dilaporkan ada sekitar 30 jenis durian di seluruh dunia dan 14 jenis di antaranya endemik di Borneo yang sebagian besar masih tumbuh liar di hutan. Sedikitnya di Kalimantan Timur terdapat 5 jenis durian. Selain Durio zibethinus, jenis-jenis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan antara lain adalah Durio kutejensis, D. dulcis, D. grandiflorus, D. graveolen, D. oxleyanus, dan D. lowiana.

Terbatasnya informasi tentang pengetahuan dan data keanekaragaman jenis buah durian, merupakan salah satu kendala yang dihadapi dalam pengelolaan dan pengembangan buah durian di Indonesia. Penelitian ekologi durian di habitatnya diharapkan dapat menambah data pengetahuan untuk pengembangan selanjutnya agar dapat memberikan hasil yang lebih baik.

Tujuan Penelitian
Berbagai aspek penelitian tentang durian perlu dilakukan agar informasinya dapat saling melengkapi sehingga dapat dihasilkan durian-durian yang memiliki kualitas sangat baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur, komposisi vegetasi dan faktor fisik di habitat durian.

Selengkapnya mengenai Penelitian Tentang Buah Durian silakan sobat (download)

itulah tadi posting Contoh Penelitian Tentang Buah Durian. semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam
»»  read more

Minggu, 06 Mei 2012

Contoh Penelitian Tentang Buah Duku

Penelitian Tentang Buah Duku

Selamat datang di blog Jurnal Pendidikan. Sobat Jurnal Pendidikan Pada kesempatan kali ini admin akan berbagi artikel tentang Contoh Penelitian Tentang Buah Duku dengan judul "SIFAT KIMIA DAN FISIKA BUAH DUKU ASAL BATANGHARI PADA BERBAGAI TINGKAT KEMATANGAN" yang disusun Oleh sobat Yusnaidar (Staf Pengajar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi). atau mungkin sobat pendidikan ingin terlebih dahulu membaca posting sebelumnya yang membahas tentang "Contoh Penelitian Tentang Buah Cempedak :: Model Terapi Kombinasi Ekstrak Etanol 80% Kulit Batang Cempedak (Artocarpus Champeden Spreng.) dan Artesunat pada Mencit Terinfeksi Parasit Malaria". semoga bermanfaat.

ilustrasi

SIFAT KIMIA DAN FISIKA BUAH DUKU ASAL BATANGHARI PADA BERBAGAI TINGKAT KEMATANGAN
Yusnaidar
Staf Pengajar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi
e-mail : yus_naidar@yahoo.com

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa sifat kimia dan fisika buah duku asal Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi pada berbagai tingkat kematangan dan menentukan tingkat ketuaan panen optimum buah duku asal Kabupaten Batanghari. Rancangan percobaan yang digunakan asalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan tingkat kematangan panen buah duku yaitu, 4, 7 dan 10 hari setelah kulit buah duku berwarna kuning kehijauan (skk). Selanjutnya buah duku untuk setiap tingkat kematangan dianalisa sifat kimia dan fisikanya.

Hasil penelitian menunjukkan tingkat kematangan buah duku Batanghari yang dipanen setelah kulit buah duku berwarna kuning kehijauan berpengaruh terhadap vitamin C, total asam, total padatan terlarut,dan warna buah duku, tetapi tidak berpengaruh terhadap kadar air buah duku. Tingkat kematangan optimum untuk pemanenan buah duku Batanghari adalah pada 7 hari skk.

Kata kunci : duku, kematangan, panen

ABSTRACT
The objectives of this research were to analyze the chemical and physical properties of duku fruit from Batanghari District in Jambi Province at various level of ripeness and to determine the optimum level of ripeness for harvesting. The experiment was arranged in a Completely Randomized Design (CRD). The factor investigated was the ripeness levels of harvested duku fruit, which were 4, 7, and 10 days after the skin of duku fruit becomes greenish yellow (skk), respectively. Then, the chemical and physical properties of duku fruit were analyzed for each level of ripeness.

The result has shown that the level of ripeness of duku fruit from Batanghari District harvested after the skin of duku fruit becomes greenish yellow had significant effect on the vitamin C, total soluble solid, total acid, and color of duku fruit. However, it had no significant effect on the moisture content of duku fruit. The optimum level of ripeness for harvesting duku fruit from Batanghari District was at 7 days skk.

Keywords : duku fruit, ripeness, harvest

PENDAHULUAN
Buah duku merupakan salah satu buah unggulan Provinsi Jambi. Sentra Produksi duku di Jambi adalah Kabupaten Muaro Jambi, Bungo, Merangin, Sarolangun, Batanghari, dan Tebo1). Pengembangan buah duku di Jambi masih terbuka luas karena agroklimat di Jambi sesuai untuk pertumbuhan buah duku.

Buah duku disukai karena rasanya manis. Buah duku cukup baik dikonsumsi karena kandungan nilai gizi yang cukup tinggi, terutama kandungan vitamin C-nya. Dalam setiap 100 g buah duku masak, kurang lebih 64 % adalah bagian yang dapat dimakan.

Dibandingkan dengan duku daerah lain seperti Palembang, duku asal Jambi masih kurang dikenal. Duku asal Jambi mempunyai ciri khas yaitu memiliki rasa yang enak, manis, daging buah yang tebal dan biji yang kecil. Keanekaragaman duku asal Jambi sangat tinggi, tetapi belum diketahui sifat dan karakteristiknya. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi dan karakterisasi sifat kimia dan fisika buah duku Jambi sehingga diperoleh deskripsi buah duku asal Jambi.

Umumnya buah duku dikonsumsi dalam bentuk segar. Faktor penting yang mempengaruhi mutu buah duku untuk konsumsi segar adalah tingkat ketuaan buah sewaktu panen. Faktor ini merupakan hal yang kritis, karena bila tidak dipenuhi maka mutu dan rasa buah terbaik tidak akan didapat. Untuk itu, saat petiknya harus benar-benar dalam keadaan sudah masak. Pemetikan sebelum saat siap petik dapat menurunkan mutu dan kualitas rasa buah menjadi asam dan warna yang kurang menarik Pemetikan pada saat yang tepat menyebabkan buah duku mempunyai rasa yang manis dan warna yang lebih menarik. Sedangkan pemetikan lewat masak menyebabkan umur simpan buah duku menjadi pendek.

Perlu diketahui tanda-tanda buah duku siap panen untuk mendapatkan buah yang berkualitas baik. Buah duku siap panen biasanya kulit buah berwarna kuningkehijauan atau kuning-keputihan serta buah agak lunak. Tanda-tanda lainnya adalah getah pada kulit buahnya sudah tampak berkurang atau tidak ada getah sama sekali pada kulit buah dan warna daging buah transparan. Untuk menentukan tingkat kematangan buah duku asal Kabupaten Batanghari siap panen sejauh ini belum ada standar objektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa sifat kimia dan fisika buah duku asal Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi pada berbagai tingkat kematangan dan menentukan tingkat ketuaan panen optimum buah duku asal Kabupaten Batanghari.

METODE PENELITIAN

Bahan
Bahan yang digunakan adalah buah duku yang berasal dari Desa Sungai Rengas Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi pada tiga tingkat kematangan. Rancangan Percobaan Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan tingkat kematangan buah duku yaitu 4, 7 dan 10 hari skk.

Pelaksanaan Penelitian
Buah duku dipanen pada tiga tingkat kematangan dihitung dari warna kulit buah duku yaitu 4, 7 dan 10 hari setelah kulit buah duku berwarna kuning kehijauan (skk). Buah duku berwarna kuning kehijauan adalah jika warna kuning telah dominan dibandingkan warna hijau pada kulit buah duku. Pengamatan dilakukan terhadap vitamin C, total asam, total padatan terlarut (TPT), kadar air dan warna buah duku.

Analisis Data
Analisa data menggunakan analisa ragam dan dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5 %.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Vitamin C
Rata-rata kandungan vitamin C buah duku akibat perbedaan tingkat kematangan disajikan pada Tabel 1. Hasil analisis uji DNMRT menunjukkan, bahwa kandungan vitamin C tingkat kematangan 7 hari skk berbeda nyata dengan tingkat kematangan 4 hari skk dan 10 hari skk. Semakin tua buah duku yang dipanen, kandungan vitamin C buah cenderung menurun.

Tabel 1. Kandungan Vitamin C duku Batanghari pada tiga tingkat kematangan


Ket. : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf α = 5% menurut DNMRT

Total Asam
Rata-rata nilai total asam buah duku akibat perbedaan tingkat kematangan menurut uji DNMRT disajikan pada Tabel 2. Total asam buah duku berkorelasi secara negatif dengan tingkat kematangan dengan nilai koefisien korelasi -0,97. Ini berarti semakin matang buah duku maka nilai kandungan asam semakin menurun.

Tabel 2. Total asam duku Batanghari pada tiga tingkat kematangan


Ket. : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf α = 5% menurut DNMRT

Hasil analisis uji DNMRT
menunjukkan kandungan asam buah duku yang dipanen pada tingkat kematangan 4 hari skk berbeda nyata dengan tingkat kematangan 7 dan 10 hari skk.

Bertambahnya tingkat kematangan buah duku dari 4 hari skk menjadi 10 hari skk mengakibatkan penurunan kandungan asam buah duku sebesar 29,64 %.

Kadar air
Penurunan ini disebabkan karena asam digunakan untuk aktivitas metabolisme selama proses pematangan.

Rata-rata kadar air buah duku untuk tiap tingkat kematangan dapat dilihat pada Tabel 3. Hasil analisis uji lanjut DNMRT menunjukkan kadar air buah duku yang dipanen pada berbagai tingkat kematangan tidak berbeda.

Tabel 3. Kadar Air buah duku Batanghari pada tiga tingkat kematangan


Ket. : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf α = 5% menurut DNMRT

Total Padatan Terlarut (TPT)
Rata-rata nilai TPT buah duku untuk tiap tingkat kematangan dapat dilihat pada Tabel 4. Nilai TPT buah duku pada berbagai tingkat kematangan berkorelasi secara positif yaitu 0,517. Ini berarti semakin matang buah duku maka nilai TPT semakin tinggi.

Tabel 4. TPT buah duku Batanghari pada tiga tingkat kematangan


Ket. : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf α = 5% menurut DNMRT

Hasil analisis uji lanjut DNMRT
menunjukkan, nilai TPT buah duku pada tingkat kematangan 4 hari skk berbeda nyata dengan tingkat kematangan 7 dan 10 hari skk. Peningkatan tingkat kematangan buah duku dari 4 hari skk menjadi 7 hari skk dapat meningkatkan nilai TPT buah duku sebesar 13,2 %. Peningkatan kadar TPT disebabkan karena selama proses pematangan terjadi hidrolisis pati menjadi gula-gula sederhana glukosa, sukrosa dan
fruktosa5).

Warna
Pada banyak buah-buahan tropis, warna kulit menggambarkan tingkat kematangan. Warna yang ada pada buahbuahan disebabkan oleh pigmen yang dikandungnya. Semakin matang buah biasanya warna akan berubah semakin terang, misalnya dari hijau ke kuning, lalu ke merah. Disamping itu warna dapatmempengaruhi kesukaan konsumen terhadap suatu produk.

Berdasarkan hasil analisis ragam menunjukkan bahwa tingkat kematangan berpengaruh terhadap indeks warna hijau, merah dan biru buah duku. Indeks warna buah duku pada tiga tingkat kematangan disajikan pada Tabel 5.

Indeks warna hijau buah duku berkorelasi negatif dengan tingkat kematangan buah duku dengan nilai koefisien korelasi -0,78. Hal ini berarti semakin rendah indeks warna hijau maka buah duku semakin matang.

Tabel 5. Indeks warna buah duku Batanghari pada tiga tingkat kematangan


Keterangan : Angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf α = 5% menurut DNMRT

Hasil uji DNMRT menunjukkan indeks warna hijau buah duku berbeda untuk setiap tingkat kematangan.

Indeks warna merah buah duku berkorelasi secara positif dengan tingkat kematangan dengan nilai koefisien korelasi 0,34. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi indeks warna merah semakin matang buah duku. Hasil uji DNMRT menunjukkan indeks warna merah buah duku untuk tingkat kematangan 4 hari skk tidak berbeda dengan tingkat kematangan 7 hari skk, tetapi berbeda dengan tingkat kematangan 10 hari skk.

Indeks warna biru buah duku berkorelasi secara positif dengan tingkat kematangan buah duku dengan nilai koefisien korelasi 0,53. Hal ini menunjukkan semakin tinggi indeks warna biru maka buah duku semakin matang. Hasil uji DNMRT menunjukkan indeks warna biru buah untk tingkat kematangan 4 hari
skk berbeda dengan tingkat kematangan 7 hari dan 10 hari skk.

KESIMPULAN
Tingkat kematangan buah duku Batanghari yang dipanen setelah kulit buah duku berwarna kuning kehijauan berpengaruh terhadap vitamin C, total asam, total padatan terlarut dan warna buah duku, tetapi tidak berpengaruh terhadap kadar air buah duku.

Tingkat kematangan optimum untuk pemanenan buah duku Batanghari adalah pada 7 hari skk.

UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kami sampaikan pada Dirjen Dikti atas pendanaan melalui Dana Hibah Pekerti(No.307/P4T/DPPM/PHP/IV/2003.Tanggal 25 April 2003).

DAFTAR PUSTAKA
  • Asni, N., 2004, Upaya Memperpanjang Masa Simpan Duku. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi, Jambi.
  • Hernita, D., 2004, Bibit Bermutu dengan Metode Sambung Pucuk, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi, Jambi.
  • Paull, R.E., 1996, Longkong, Departement of Tropical Plant and Soil Sciences, University of Hawaii, Honolulu.
  • Widyastuti, Y.E., dan Regina, K., 2000, Duku Jenis dan Budidaya, Penebar Swadaya, Jakarta.
  • Winarno, F.G., 2002, Fisiologi Lepas Panen Produk Hortikultura, M-Brio Press, Bogor.
sumber: Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Jambi (unja-jisic.com)

itulah tadi posting Contoh Penelitian Tentang Buah Duku. semoga ada guna dan manfaatnya. wassalam
»»  read more